News - Awal Januari lalu, vaksin yang diperuntukkan untuk lebah madu akhirnya disetujui oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat. Vaksin ini adalah vaksin pertama di dunia yang diciptakan untuk mempertahankan jumlah koloni lebah madu.

Vaksin yang diproduksi oleh Dalan Animal Health, perusahaan bioteknologi akan digunakan untuk membantu memerangi penyakit American Foulbrood pada lebah.

Vaksin ini berfungsi dengan mengintegrasikan beberapa bakteri busuk ke dalam royal jelly. Zat ini kemudian diumpankan ke ratu oleh lebah pekerja. Ratu menyerap bakteri dan sebagian vaksin ditransmisikan ke ovarium. Larva lebah yang tumbuh kemudian mengembangkan kekebalan saat menetas. Penelitian Dalan menyimpulkan bahwa prosedur ini akan menurunkan tingkat kematian akibat penyakit American Foulbrood.

"Jika kami dapat mencegah infeksi di sarang lebah kami, kami dapat menghindari perawatan yang mahal dan memfokuskan energi pada elemen penting lainnya dalam menjaga kesehatan lebah," kata Tauzer Apiaries, anggota dewan Asosiasi Peternak Lebah Negara Bagian California.

Hampir sepertiga makanan di Amerika Serikat mulai dari labu, apel, melon, blueberry, membutuhkan lebah madu untuk berkembang. Namun, peternak lebah AS kehilangan hampir 40% koloni lebah madu mereka pada musim dingin 2019.

Beberapa hari lalu, Uni Eropa juga mengumumkan akan diterapkannya "Buzz Lines", sebuah kerangka kerja yang akan mengatur koridor ekologi untuk polinator (serangga yang menjadi sarana penyerbukan tanaman).

Satu dari tiga spesies lebah, kupu-kupu, dan lalat terbang dikatakan menghilang di seluruh UE. Hal ini menjadi peringatan bagi anggota Uni Eropa untuk mulai bertindak.

Penurunan jumlah lebah memiliki banyak penyebab, termasuk penurunan keanekaragaman tanaman, praktik perlebahan yang buruk, dan hilangnya habitat. Pestisida juga melemahkan sistem kekebalan lebah dan dapat membunuh mereka.

Padahal, hampir 90% tanaman liar dunia bergantung pada penyerbukan hewan, dan sebanyak 75% -nya adalah tanaman sumber pangan, seperti padi, gandum, singkong, kedelai dan lain sebagainya.

“Serangga apapun itu sangat sensitif terhadap lingkungan. Peningkatan suhu dan kelembaban berpengaruh bagi hidup mereka,” ungkap ujar Miftahul Ajri, S.P, M.Sc, dosen Pertanian UPN Veteran Yogyakarta.

Memang ada spesies penyerbuk selain lebah antara lain tawon, semut, kupu-kupu, kumbang, dan ngengat. Namun, lebih memiliki kemampuan yang lebih sebagai penghantar terjadinya penyerbukan.

“Makanan serangga penyerbuk itu ada 2, yaitu hektar, sebagai sumber gula, yang diambil dari bunga, dan pollen sebagai sumber protein,” ujar Ita.

Ia menjelaskan, lebah cukup unik dibandingkan serangga penyerbuk yang lain karena ia punya organ di bagian tungkai kaki yang dapat menampung pollen cukup banyak, dibandingkan serangga lain yang hanya menempel saja. Jadi, lebah merupakan hewan yang sangat krusial bagi proses penyerbukan.

“Hampir semua tanaman 80% proses penyerbukannya dibantu oleh serangga. Maka jika populasi penyerbuk menurun, proses penyerbukan juga terganggu dan itu berpengaruh pada ketersediaan pangan manusia.”

PANEN MADU DI TASIKMALAYA

Dede Yanti (41), memanen hasil budidaya lebah madu di Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (4/11/2019). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.

Daftar IUCN (International Union for Consevation of Nature) menunjukkan bahwa sebanyak 24% spesies lebah Eropa sekarang terancam punah, meskipun bernilai £690 juta (12,8 miliar rupiah) per tahun bagi perekonomian Inggris.

Fragmentasi habitat umumnya dianggap sebagai faktor terpenting yang mendorong penurunan jumlah lebah, tetapi perubahan iklim memiliki peran yang semakin besar dalam kematian mereka.

Hellen Briggs mengatakan pada BBC, jumlah serangga telah turun setengahnya di beberapa bagian dunia karena perubahan iklim dan pertanian intensif.

Tekanan gabungan dari pemanasan global dan pertanian mendorong “penurunan substansial” serangga di seluruh dunia, menurut para peneliti Inggris.

Peneliti utama, Dr Charlie Outhwaite dari UCL (London’s Global University), mengatakan, “Hilangnya populasi serangga tidak hanya berbahaya bagi lingkungan alam, tetapi juga bagi kesehatan manusia dan ketahanan pangan, terutama dengan hilangnya penyerbuk.”

Ia menambahkan, “Temuan kami menyoroti urgensi tindakan untuk melestarikan habitat alami, memperlambat perluasan pertanian dengan intensitas tinggi, dan mengurangi emisi untuk mengurangi perubahan iklim.”