News - Bagi masyarakat Gayo, Aceh Tengah, Didong merupakan salah satu sarana hiburan utama yang cukup populer dan sudah mendarah daging. Didong terdiri dari musik, dan pembacaan syair yang memiliki makna beragam yang dibawakan oleh seorang Ceh.

Didong kerap dibawakan dengan lirik-lirik jenaka namun tetap sering kali berkisar pada ajaran agama, nilai-nilai moral, dan hubungan dalam masyarakat. Seorang Ceh juga harus memiliki suara merdu dan lincah dalam penyampaiannya.

Selain itu, pengetahuan mendalam tentang adat istiadat budaya dan lingkungan sangat penting bagi seorang Ceh untuk menampilkan pertunjukan. Lain itu, suara-suara yang berbeda seperti Tuk, Denang, Guk, dan Jangin berperan penting dalam menyampaikan emosi dalam pertunjukan.

Didong merupakan representasi dari nilai-nilai budaya Gayo, seperti rasa kekeluargaan, gotong royong, dan semangat pantang menyerah.

"Didong berasal dari sistem ide berupa suatu sistem nilai, norma, dan aturan-aturan yang keseluruhannya menjadi acuan yang harus dipatuhi oleh masyarakatnya,” ujar Agung Suryo dalam Didong:Tradisi Lisan Masyarakat Gayo (2018:28) pada Buletin Haba.

Pertunjukan Didong selalu dinanti-nantikan dan menjadi hiburan yang digemari oleh semua kalangan usia.

Salah satu seniman asal Gayo yang cukup populer melestarikan seni ini adalah Syeh Kilang, juga dikenal sebagai Abdullah. Ia seniman serba bisa yang unggul dalam seni budaya Gayo tradisional dan modern, termasuk komposisi musik, permainan alat musik, menjahit, melukis, bahkan seni fotografi.

Ia berperan penting dalam merevitalisasi bentuk kesenian Didong tradisional Gayo, memperkenalkan aransemen musik modern, dan menciptakan alat musik baru untuk meningkatkan unsur ritmenya.