News - Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, mencatat proyeksi neraca pangan nasional hingga Desember 2024. Produksi beras diperkirakan mencapai 31,57 juta ton dari 31,2 juta ton kebutuhan beras nasional dalam setahun.

Hal ini sudah termasuk impor beras yang sudah masuk ke Tanah Air sebanyak 1,77 juta ton. Rencana impor Mei sampai Desember 2024 mencapai 3,39 juta ton.

"Ini jika realisasi impor 5,1 juta ton dapat terealisasi. Juga perkiraan produksi setara beras 31,57 juta ton dapat tercapai, ini belum memperhitungkan kalau terjadi banjir, kekeringan dan serangan hama penyakit. Kalau itu terjadi 31,57 juta ton bisa berkurang," ungkap Sarwo dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi secara daring, dikutip Selasa (25/6/2024).

Dia juga menegaskan, produksi beras hingga Juni 2024 di dalam negeri mengalami shortage atau pengurangan sekitar 2,4 juta ton dibanding periode yang sama tahun lalu. Sebab itu, dia membuka alternatif impor untuk mengantisipasi kekurangan stok.

"Saat ini Januari hingga Juni 2024 kita terjadi shortage dibandingkan Januari hingga Juni 2023 sekitar 2,4 juta ton. Ini yang perlu diantisipasi dengan impor. Karena impor juga bukan barang haram, harus dilakukan ketika produksi dalam negeri berkurang," kata Sarwo.

Di samping itu, Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menuturkan stok cadangan beras pemerintah (CBP) saat ini sekitar 1,7 juta ton. Nantinya, stok tersebut disalurkan ke masyarakat, termasuk memaksimalkan program bantuan pangan, bantuan bencana alam, hingga Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Untuk mengatasi masalah stok beras dalam negeri, Arief juga mengatakan lembaganya mulai mempelajari usulan Presiden Joko Widodo kepada Perum Bulog untuk mengakuisisi perusahaan beras dari Kamboja.

"Kalau idenya memang demikian kita akan pelajari supaya kita juga punya cadangan pangan, misalnya cadangan pangan di luar negeri itu juga ide yang bagus," ucap Arief usai Diskusi Ketahanan Pangan dan Launching Rice Milling Plant AB2TI di Indramayu, Jawa Barat, Selasa (11/6/2024).

Arief menjelaskan, CBP di luar negeri diupayakan untuk menahan stok tetap aman, sehingga jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk kebutuhan di dalam negeri maka bisa langsung mengirimnya dari CBP terkait.

"Jadi pada saat kita punya cadangan pangan di luar negeri, seandainya kita tidak memerlukan pun kita bisa jual. Di luar negeri itu juga baik sebenarnya, tapi saya harus pelajari seperti apa," ujarnya.

Dengan mengakuisisi perusahaan beras di luar negeri untuk CBP, dia juga menuturkan bahwa Indonesia tidak mesti mengandalkan produksi di dalam negeri. Namun, produksi di domestik tetap diprioritaskan.