News - Eskalasi geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, ditambah memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat, negara-negara G7 dengan Cina, membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani mewaspadai penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dengan bunga tinggi terhadap stabilitas pasar keuangan nasional.

Menurutnya, hal itu dapat menimbulkan crowding out effect, fenomena dalam ekonomi di mana peningkatan pengeluaran pemerintah menyebabkan penurunan investasi sektor swasta.

Apalagi, 14 persen dari total investor SBN adalah investor global yang sensitif terhadap harga dan dapat memicu instabilitas atau outflow (aliran dana keluar) jika tidak dikelola dengan tepat.

Di sisi lain, upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan yield SBN, termasuk pasar keuangan lebih luas, terus dilakukan melalui pendalaman pasar keuangan, sebagaimana amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

“Dari sisi pasar uang, nilai tukar dan yield (imbal hasil) dari bond atau surat berharga negara menjadi faktor yang menentukan APBN,” kata Sri Mulyani, dalam Tanggapan Pemerintah atas Pandangan Fraksi-Fraksi terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2025, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (4/6/2024).

Untuk mencegah agar penerbitan SBN dengan bunga tinggi tidak menjadi sandungan bagi APBN, menurutnya koordinasi kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia perlu dilakukan.

Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara pembiayaan (pricing) yang menarik bagi investor dengan cost of fund alias pengeluaran yang harus ditanggung APBN.

“Koordinasi kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia juga dilakukan untuk menjaga agar penerbitan instrumen SBN dan kebijakan moneter Bank Indonesia tidak menimbulkan crowding out effect,” jelas Sri Mulyani.

Sementara itu, dengan ketidakpastian global dan lingkungan yang masih sangat dinamis, membuat banyak negara maju memperketat kebijakan moneter dan memasang suku bunga tinggi.

Hal ini yang kemudian menyebabkan risiko higher for longer atau sikap yang diambil bank-bank sentral di dunia untuk menjaga suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lama.

Kondisi ini lantas berimplikasi pada nilai tukar rupiah, capital flow dan menimbulkan biaya utang yang meningkat.

“Ini dialami semua negara, baik di negara di mana mereka melakukan kenaikan suku bunga, seperti Amerika Serikat dan Eropa, maupun spill over ke seluruh dunia. Jadi ini adalah lingkungan ekonomi global yang langsung berpengaruh ke domestik,” jelas Sri Mulyani.