News - Sekali waktu pada tahun 1933, Menteri Keuangan Arab Saudi Abdullah ibn Sulayman, dibuat kesal oleh perkataan imam masjid utama Riyadh, Syekh Ibn Nimr. Saat menyampaikan khotbah salat Jumat, sang imam mengutip salah satu ayat Al-Qur'an menyampaikan pesan tersirat yang seakan melarang Muslim bekerja sama dengan orang non-Muslim.

Bagi Abdullah, pernyataan ini dianggap menghalangi langkahnya yang ingin menjalin kerja sama dengan orang-orang di Barat untuk kemajuan negara. Ia lantas menimpali ucapan Ibn Nimr. Sebagaimana dikisahkan Madawi Al-Rasheed dalam A History of Saudi Arabia (2012: 88), Abdullah berujar yang intinya menyebut bahwa Muslim boleh saja bekerja sama dengan non-Muslim selama tidak mengganggu akidah.

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku,” tutur Abdullah mengutip salah satu ayat Al-Qur'an.

Beberapa bulan setelah itu, Abdullah menjalin kerja sama eksplorasi minyak dengan perusahaan Amerika Serikat, Standard Oil of California (SOCAL). Dari sini, masih mengutip Madawi, dimulailah sebuah proses yang tidak hanya membawa peningkatan jumlah non-Muslim, tetapi juga dimulainya perjalanan panjang transformasi di Arab Saudi.

Sebagai negara yang baru berdiri, fokus utama Arab Saudi adalah berusaha memiliki kontrol dan penguasaan atas tanah serta sumber daya alam untuk menunjukkan kedaulatan negara. Dalam hal ini penguasaan sumber air, bukan minyak, menjadi perhatian utama Saudi pada awal-awal berdiri. Pasalnya, air sebagai sumber kehidupan sulit didapatkan.

Negara yang didirikan oleh Raja Abdulaziz Al-Saud pada 1932 ini secara geografis berada di posisi yang kurang menguntungkan. Seluruh wilayahnya didominasi gurun yang kering kerontang. Kondisi ini membuat Arab Saudi sempat tercatat sebagai salah satu negara yang cukup miskin.

Merujuk yang disampaikan Toby Craig Jones dalam Desert Kingdom: How Oil and Water Forged Modern Saudi Arabia (2010), para pemimpin Saudi memahami bahwa kekayaan politik mereka terkait dengan kontrol air. Bila air tersedia, maka produksi pertanian dapat berjalan dan negara akan mendapat banyak pendapatan. Pembangunan dapat berjalan dan rakyat diuntungkan.

Sejak tahun 1930, Abdulaziz sudah melakukan pencarian atas keberadaan air dengan meminta bantuan Charles R. Crane, filantropis asal AS. Crane lantas menyuruh anak buahnya, seorang ahli geologi bernama Karl Twitchell yang sangat berpengalaman membangun infrastruktur di Yaman, untuk memimpin proyek ini.