News - Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek masih meninggalkan banyak catatan usai resmi beroperasi sejak awal pekan ini. Minimnya fasilitas park and ride serta integrasi antar moda dinilai menjadi persoalan yang perlu diselesaikan oleh manajemen.

Ketua Institusi Studi Transportasi (Instran), Darmaningtyas mengatakan, peminat LRT Jabodebek memang cukup tinggi. Berdasarkan data PT KAI jumlah penumpang dalam kurun waktu empat hari saja mencapai 96.426 orang.

Rincian volume penumpang LRT Jabodebek pada Senin (28/8/2023) yaitu 6.475 penumpang, (29/8/2023) sebanyak 28.381 penumpang, Rabu (30/8/2023) sebanyak 30.519 penumpang, dan jumlahnya semakin meningkat pada Kamis (31/8/2023) yaitu 31.051 penumpang. Di mana stasiun yang paling banyak melayani penumpang yaitu Stasiun Dukuh Atas dan Harjamukti.

"Tapi justru di sini persoalan yang dihadapi oleh LRT. Minim fasilitas park and ride dan integrasi antar moda," ujar Darmaningtyas ketika memberikan catatan tentang LRT Jabodebek kepada Tirto, Jumat (1/9/2023).

Dia mengatakan, seharusnya fasilitas park and ride maupun integrasi dengan moda transportasi lain untuk first and last mile (ujung pemberangkatan dan ujung kedatangan) harus memadai. Sehingga dapat memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat.

Fasilitas park and ride di Harjamukti misalnya, masih terbatas. Dari kesaksian petugas paling memuat 25 mobil saja. Sementara sepeda motor bisa muat banyak.

"Tadi pagi berdiri lima menit saja di pintu masuk park and ride Harjamukti melihat beberapa mobil yang terpaksa putar balik, diarahkan parkir di Cibubur Junction karena sudah full," ujar dia.

Sementara, kata Darmaningtyas, jarak Cibubur Junction ke Stasiun LRT sekitar 600 meter. Belum lagi masyarakat harus menyeberang di tikungan jalan. Ini tentu kurang mengutamakan keselamatan.

Perlu ada koordinasi antara PT KAI dengan pengelola park and ride, untuk membantu calon penumpang agar tidak membuang waktu karena mencari tempat parkir. Paling tidak menginfokan kepada calon penumpang yang membawa mobil kalau lokasi parkir sudah penuh.

"Sebab waktu yang hilang ketika sudah sampai stasiun dan putar balik mencari tempat parkir, lalu balik lagi ke stasiun itu bisa mencapai 10 menit lebih," kata Darmaningtyas.

"Selain buang waktu, juga BBM. Atau diumumkan saja, sampai dengan fasilitas park and ride memadai, calon penumpang dianjurkan naik motor saja yang tempat parkirnya lebih gampang," lanjut dia.

LRT Jabodebek di hari ketiga

Sejumlah penumpang menjajal LRT Jabodebek di hari ketiga beroperasi. News/Dwi Aditya Putra

Darmaningtyas melihat fasilitas park and ride yang terbatas juga terjadi di Stasiun Jatimulya, Bekasi Timur. Dia justru mempertanyakan mengapa lahan di depan Stasiun Jatimulya yang sisi timur itu justru dibangun taman, bukan fasilitas park and ride. Sementara fasilitas park and ride yang ada di sisi barat jelas amat minim.

"Di Stasiun Jatimulya ini juga dilayani oleh angkutan umum Trans Patriot, tapi tidak tersedia halte untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Harusnya difasilitasi halte sederhana yang memudahkan dan sekaligus menjadi petunjuk pada penumpang bahwa di stasiun tersebut ada layanan bus," ujarnya.

Kondisi yang ironis juga terjadi di Stasiun TMII. Di sana sebetulnya sudah ada layanan Transjakarta, baik untuk bus besar (7D) maupun bus kecil (Jak 36). Tapi, justru tidak dibuatkan ruang agar kendaraan tersebut dapat menaikkan atau menurunkan penumpang di area stasiun, sehingga tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas dan memudahkan calon penumpang LRT untuk pindah moda.

"Stasiun-stasiun lain juga masih buruk aksesnya. PT Adhi Karya sepertinya hanya bangun jalur keretanya saja, tidak memikirkan optimalisasi penggunaan sarana tersebut karena itu urusan PT KAI," katanya.

Sementara di stasiun-stasiun lain, terutama yang rute Dukuh Atas-Jatimulya masih mengalami problem akses dan integrasi, baik itu di Jati Bening, Cikunir 1, Cikunir 2, Bekasi Barat. "Fasilitas integrasi yang dapat dikatakan baik baru yang ada di Cawang sampai Dukuh Atas saja. Selebihnya masih menjadi PR besar," tuturnya.

Terkait dengan sarana, kata Darmaningtyas, tempat duduk LRT Jabodebek juga tidak sebanyak KRL. Bila kursi panjang KRL itu bisa untuk 7-8 orang, maka LRT hanya untuk 4-5 orang. Padahal, ruangnya masih memungkinkan untuk dibuat menjadi 5-6 orang agar lebih banyak orang yang bisa duduk.

Dari segi layanan, di beberapa stasiun masih terlihat kereta berhenti bisa lebih dari 1 sampai 2 menit, belum tahu persis apa sebabnya. Seharusnya waktu berhenti ini bisa diminimalisir. Saat menjelang masuk ke stasiun, sebaiknya juga ada penjelasan pula pintu sebelah kiri atau kanan yang akan dibuka.

"Di beberapa stasiun, terutama sore hari, ketika banyak penumpang yang belum familier, mereka bingung, yang dibuka sebelah kiri atau kanan," pungkas Darmaningtyas.