News - Sabtu, 18 Mei 2024, masyarakat "Badui" yang menghuni Desa Kanekes di Kabupaten Lebak, beramai-ramai melakukan tradisi rutin seba ke Gubernur Banten di Kantor Gubernur di Kota Serang.

Tradisi yang mengharuskan mereka berjalan kaki sejauh kurang lebih 45 km itu sebenarnya merupakan puncak upacara seba. Sehari sebelumnya, mereka telah menyambangi Bupati Lebak di Pendopo Kabupaten Lebak untuk melakukan hal yang sama.

Seba atau menyebamerupakan ajang silaturahmi masyarakat Kanekes terhadap pemerintah yang berkuasa dan melindungi wilayahnya. Mereka menghadap para penguasa seperti bupati dan gubernur dalam rangka berdialog sekaligus menyerahkan upeti dari hasil bumi.

Rangkaian upacara seba ini masuk ke dalam agenda siklus tani pada masyarakat Kanekes. Biasanya upacara ini dilakukan pada tiap bulan April dan Mei setelahkawalu dan ngalaksa.

Seba dianggap harus dilakukan, karena bagi masyarakat Kanekes hasil panen harus diserahkan terlebih dahulu pada penguasa sebelum mereka menikmatinya selama setahun penuh.

Komoditas yang diserahkan itu antara lain makanan laksa berjumlah tujuh bungkus yang dibungkus dengan pelepah tanaman—tiap-tiap bungkus beratnya 1 Kg. Lalu beras ketan dari ketiga tangtu (Dusun Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana) kurang lebih 10 Kg. Kemudian pisang, talas, gula aren, bibirusan (umbut), tunasrotan, tunas honjé (kecombrang),bakul besar, bakul kecil, kipas anyam, centong, dulang, gayung, dan sendok.

Orang Kanekes diberitakan telah melakukan seba paling tidak pada masa Kesultanan Banten (1526-1813). Mereka kala itu biasanya singgah di Keraton Surosowan dan Kaibon dan diterima oleh permaisuri-permaisuri Sultan Banten.

Laporan lain muncul di periode yang lebih kemudian, yakni dari catatan Pangeran Achmad Djajadiningrat yang menjabat Bupati Serang (1901-1924). Menurutnya, di periode kolonial masyarakat Kanekes biasanya seba pada bupati-bupati Banten yang masih memiliki garis keturunan Sultan Banten, termasuk dirinya.

Tradisi seba pada masyarakat Kanekes bukan fenomena tunggal. Sumber-sumber tertulis dari periode yang sezaman dan bahkan lebih tua, juga menunjukkan tradisi seba di kalangan masyarakat lain yang erat kaitannya dengan dua sistem, yakni agrikultur dan feodalisme.