News - Di sudut timur Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, persis di bibir pantai yang dilindungi tanggul dan tanah yang ditinggikan, membentang luas area pemakaman yang tertata apik. Warga yang berlalu-lalang dan bercengkerama mungkin bertanya-tanya mengapa ada tempat seperti itu di dalam kompleks taman hiburan, dengan nama yang asing pula: Ereveld.

Ereveld Ancol adalah salah satu makam kehormatan yang dimiliki sekaligus dikelola pemerintah Belanda untuk mereka yang tewas dalam Perang Dunia Kedua terutama saat masa pendudukan Jepang. Sebagian yang dimakamkan di sana semasa hidupnya mengabdi sebagai Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) atau orang-orang yang dihormati.

Terkubur pula mereka yang tidak diketahui namanya, dengan kayu nisan sekadar bertuliskan “onbekend” atau “onbekenden”—merujuk banyak orang tidak dikenal yang dikubur dalam satu liang lahat. Profesor Achmad Mochtar, direktur pribumi pertama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang meninggal dipenggal Jepang, termasuk di antara yang disemayamkan dengan model nisan bersama-sama.

Berjarak 10 meter bersemayam koleganya, Dr. Raden Soesilo, dengan nisan yang mewakili 10 orang bertuliskan “Verzamelgraf Bandjermasin”, menandakan jenazah dipindahkan dari Banjarmasin, tempat ia dieksekusi Jepang pada 1943. Jepang menuduh Soesilo merencanakan pemberontakan dan menjalin kontak dengan kapal selam Amerika Serikat di Sungai Barito.