News - Mei merupakan bulan peraduan nasib bagi bangsa Indonesia. Kebangkitan dan perjuangan melawan kekuasaan yang tiran dan sewenang-wenang di negeri ini menoreh sejarah pada Mei. Dua momen yang berkelindan dari dua zaman berbeda di bulan ini adalah pendirian organisasi perjuangan nasional Budi Utomo dan peristiwa Reformasi 1998.

Lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 silam, kini diabadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Organisasi yang dibidani mahasiswa kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) tersebut, dianggap sebagai tonggak kebangkitan nasional yang memantik semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme di kalangan bumiputera kala itu.

Tokoh-tokoh kebangkitan nasional macam Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Suraji, Wahidin Sudirohusodo, Mangunhusodo hingga Tjipto Mangunkusumo merupakan beberapa orang yang berperan dalam pendirian dan perjalanan Budi Utomo.

Tahun 2024, menandakan sudah 116 kali Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) diperingati. “Bangkit untuk Indonesia Emas,” diambil menjadi tema Harkitnas tahun ini sebagaimana tercantum dalam Penyampaian Pedoman Penyelenggaraan Harkitnas ke-116 Tahun 2024 nomor 1577/M.KOMINFO/HM.04.01/05/2024. Namun, sukar ada emas bagi generasi masa depan bila Harkitnas tidak menyadarkan kita bahwa situasi kiwari begitu mengancam demokrasi yang susah payah dilahirkan lewat Reformasi 1998.

Pelemahan terhadap demokrasi bukan omong kosong dan sensasi yang dibuat-buat pers belaka. Sederet pengamat dan aktivis pro-demokrasi sudah menyatakan bahwa demokrasi saat ini tengah dalam ancaman. Pasalnya, praktik lancung penguasa dan elit politik di DPR bersatu padu menjauhkan diri dari amanat reformasi.

Franz Magnis Suseno

Portrait tokoh kebudayaan Franz Magnis Suseno saat ditemui tim News di ruangannya sebagai guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta pada Senin (26/8/19). News/Hafitz Maulana

Guru Besar Filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno, menilai reformasi adalah suatu sukses luar biasa bagi bangsa Indonesia. Berkat reformasi, nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) dijamin dan bercokol dalam undang-undang dasar. Namun, dia menyatakan bahwa saat ini reformasi tersebut gagal atau dalam bahasa yang lebih halus, terancam.

“Saya sendiri masih berharap [pada] demokrasi. Karena demokrasi itu kemerdekaan, merdeka artinya bebas, setiap orang [dapat] ikut menentukan negara,” kata Magnis dalam diskusi terbuka yang digelar STF Driyarkara, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2024).

Magnis menilai –seraya mengaminkan ucapan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla beberapa waktu lalu– bahwa Pemilu 2024 merupakan pemilihan umum terburuk dalam sejarah Indonesia. Namun, Magnis menilai bukan berarti karena sebab itu rakyat harus terpecah belah dan terjebak dalam tragedi kekerasan. Justru, momen tersebut seharusnya memantik perjuangan rakyat dalam merebut kembali demokrasi yang sehat.

“Kita harus bertanya dan mampu bertanya, apa yang dapat kita perjuangkan? [menghadapi situasi ini],” seru Magnis.