News - Pada hari ketika Nagasaki dibom atom, Sukarno dan rombongannya berangkat ke Vietnam hendak bertemu dengan Marsekal Teraichi dan "menjemput" janji kemerdekaan. Mereka terbang dari lapangan udara Kemayoran pada 9 Agustus 1945 memakai pesawat milik Jepang.

Bersama Sukarno, ikut Mohamad Hatta, Soeharto sebagai dokter pribadi Sukarno, dan dokter Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat. Kecuali Soeharto, yang lain adalah anggota Chuo Sangi-inatau Dewan Pertimbangan Pusat bentukan Jepang, yang baru saja bekerja keras merumuskan sebuah undang-undang bagi Indonesia.

Ketika hendak naik pesawat, Soeharto diberitahu oleh petugas bahwa namanya tidak ada dalam daftar rombongan yang hendak berangkat.

"Saya dokter rombongan Indonesia,” kata Soeharto.

“Tidak perlu dokter Indonesia. Kami punya banyak dokter yang pandai-pandai,” timpal si petugas.

“Apakah di antara dokter-dokter Nippon ada yang mengetahui cara berpakaian orang Jawa untuk membantu dokter Radjiman yang sakit rematik itu,” tanya Soeharto.

Si petugas rupanya tidak paham dan pergi ke tempat lain. Soeharto kemudian masuk dan pesawat segera mengangkasa.

Setelah pesawat mendarat di lapangan darurat pinggiran Saigon, rombongan kemudian diinapkan di sebuah hotel bergaya Prancis. Esoknya mereka diterbangkan ke Dalat.

Di antara empat orang Indonesia itu, Radjiman yang paling sepuh. Meski berpendidikan Barat dan pernah tinggal di Belanda, ia terbiasa dengan pakaian adat Jawa.

“Saya sengaja memberi petunjuk kepada wanita-wanita pelayan hotel bagaimana cara membantu dokter Radjiman berbusana,” kenang Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah (1984: 7).

Setelah bertemu dengan Marsekal Teraichi sebagai panglima tinggi Jepang di Asia Tenggara, mereka kembali ke Indonesia menggunakan pesawat pembom yang tempat duduknya terbatas. Perjalanan yang mengharuskan berpindah-pindah pesawat, bahwa mesti naik pesawat pembom, adalah siksaan bagi Radjiman yang telah berkepala tujuh.

Selain kelelahan, ancaman dari pesawat pemburu Sekutu juga menjadi tantangan lain bagi Radjiman dan kawan-kawannya. Beruntung, setelah dua kali singgah, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya tiba di Jakarta dengan selamat pada 14 Agustus 1945.

Meski Radjiman sebagai pimpinan Chuo Sangi-In dianggap telah selesai, namun dokter sepuh itu harus melibatkan diri dalam Panita Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Kemerdekaan Indonesia yang ia dan kawan-kawannya perjuangkan, adalah juga yang dulu diidamkan oleh pamannya, Wahidin Sudirohusodo.