News - Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri, memandang bahwa kecil kemungkinan AM memutuskan untuk melompat ke sungai dari Jembatan Kuranji, Padang, sebagaimana keterangan polisi.

Menurut Reza, bocah seusia AM (13 tahun) bisa sangat terpengaruh oleh teman sebayanya. Hal itu baik dalam aspek berpikir maupun beraktivitas.

Posisi AM dalam kegiatan pada malam tersebut dinilai sebagai pihak yang diajak. AM, menurut Reza, diajak mengikuti kegiatan oleh teman yang beberapa tahun lebih tua daripada dirinya.

“AM berumur puber, sementara temannya berusia pascapuber. AM bukan pengendali, apalagi penginisiasi,” kata Reza kepada reporter Tirto, Minggu (7/7/2024).

Situasi pada malam itu digambarkan Reza sebagai kondisi kritis atau bahkan menakutkan, yakni dikejar polisi. Kombinasi ketiga hal tersebut semestinya mendorong bekerjanya sistem berpikir 1, bukan sistem berpikir 2.

Sistem berpikir 1 berlangsung secara sangat cepat. Data di-bypass sangat ekstrim sehingga proses berpikir laksana garis lurus tanpa percabangan,” jelas Reza.

Dalam sistem berpikir 1, tidak ada opsi keputusan yang bersifat majemuk. Opsi tunggal yakni menyamakan diri dengan keputusan atau perilaku orang-orang lain.

Sehingga, kata Reza, kalau AM melihat teman-temannya lari, kemungkinan AM juga akan ikut lari. Kalau teman-temannya melawan, AM juga akan melawan.

Andai dibayangkan bahwa ketika teman-temannya menyerah kepada polisi, tapi AM justru menjadi satu-satunya orang yang melompat dari jembatan, perilaku AM sedemikian rupa bertolak belakang dengan rumusan tadi,” ungkap Reza.

Kendati demikian, kemungkinan AM melompat memang tetap ada. Namun, Reza memandang bahwa AM lebih berkemungkinan akan mengikuti teman-temannya di situasi tersebut, yakni tidak melompat.

Probabilitas yang lebih besar bahwa dalam situasi genting pada saat dikejar polisi, AM akan membuat keputusan untuk juga melakukan apa yang dilakukan oleh teman-temannya,” tutur Reza.