News - Praktisi Perbankan BUMN, Chandra Bagus Sulistyo menjamin bahwa kegiatan investasi atau menyimpan uang di perbankan digital masih cukup aman. Asalkan, perbankan tersebut mengikuti regulasi yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Saat ini, klaimnya seluruh perbankan baik digital maupun konvensional sudah mengikuti regulasi diterbitkan oleh OJK, BI, dan LPS. Mulai dari bagaimana proses ketika melakukan pengelolaan dana maupun pengelolaan pemberian kredit kepada masyarakat.

"Menurut saya ketika masyarakat menyimpan uang digital dan konvensional tidak perlu ada yang dikhawatirkan," kata dia kepada News, Rabu (5/4/2023).

Chandra menekankan bahwa tidak ada hubungannya antara penutupan jatuhnya Silicon Valley Bank (SVB) dengan risiko investasi di perbankan digital. Karena menurutnya potensi dampak penutupan sebuah bank terkait dengan kebijakan bank itu sendiri, apakah memenuhi aturan atau tidak.

"Persoalan SVB itu merupakan bagian dari pengelolaan risiko yang kurang bagus. Sehingga bank mengalami masalah. Itu tidak terjadi di bank digital. Bank konvensional juga seperti itu," tegasnya.

Lebih lanjut, Chandra mengatakan bahwa dampak dari penutupan SVB sendiri tidak berkaitan langsung dengan Indonesia. Hal ini karena portofolio aset bank-bank di Indonesia tidak ada yang memiliki karakteristik seperti SVB.

"Tentu saja dampaknya tidak langsung ke perbankan terutama di Indonesia," katanya.

Sebelumnya, dalam video sebuah Tiktok, Financial Planner, Vincent membuat narasi mengajak masyarakat untuk stop menyimpan uang di perbankan digital. Hal ini dihubungkan dengan penutupan tiga bank di Amerika Serikat yang salah satunya adalah SVB.

"Jangan sampai kalian simpan uang kalian atau deposito di uang digital," ajakannya seperti dikutip dari akun tiktoknya.