News - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) menargetkan pada akhir 2024 menyelesaikan pengubahan 2.000 tiang listrik, baik yang berbasis baja maupun beton menjadi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Kebijakan mengubah tiang listrik menjadi SPKLU itu sudah dimulai sejak awal 2024.

“Jadi kami sudah membangun strategi untuk mengubah tiang listrik kami menjadi SPKLU,” papar Direktur Utama PLN Darmawan Prasojo kepada Komisi VII DPR RI, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (30/5/2024).

Sementara itu, sampai saat ini SPKLU tiang listrik sudah tersebar di 8 provinsi di Indonesia.

Rinciannya, Jawa sebanyak 708 SPKLU, Bali dan Nusa Tenggara 110 SPKLU, Sumatera 111 SPKLU, Kalimantan 52 SPKLU, Sulawesi 56 SPKLU, Maluku 8 SPKLU, serta Papua 7 SPKLU.

Sedangkan rencananya, SPKLU tiang listrik bakal dibangun lagi, sehingga di Jawa akan tersedia total sebanyak 2.268 SPKLU, Bali dan Nusa Tenggara 320 SPKLU, Sumatera 726 SPKLU, Kalimantan 397 SPKLU, Sulawesi 236 SPKLU, Maluku 53 SPKLU, serta Papua 52 SPKLU.

“Nah ini penambahan SPKLU berbasis tiang listrik di Indonesia, dengan jumlah total 2.000 SPKLU baru yang berbasis pada tiang listrik,” lanjut Darmawan.

Ihwal alasan, PLN memilih mengubah tiang listrik menjadi charger kendaraan listrik adalah karena PLN memiliki banyak tiang listrik yang dapat digunakan langsung sebagai SPKLU. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk membangun SPKLU bisa jauh lebih murah.

Pada saat yang sama, dengan telah tersedianya tiang listrik, pembangunan SPKLU bertipe pole mounted charger alias PLN EYE ini dapat berlangsung lebih cepat.

“Tersedia jutaan tiang listrik milik PLN Persero yang bisa langsung digunakan untuk memfasilitasi pembangunan SPKLU secara cepat dengan harga yang sangat terjangkau,” kata Darmawan.

Lebih penting lagi, dengan adanya SPKLU tiang listrik ini, upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur penunjang ekosistem kendaraan listrik bisa lebih mudah tercapai. Hal ini seiring dengan target pemerintah untuk mengaspalkan 2 juta unit mobil listrik dan 13 juta unit kendaraan listrik roda dua di 2030.

Untuk mendukung pengembangan SPKLU yang disebut Darmawan sebagai SPKLU tiang ini, PLN juga telah membangun ekosistem penunjang, yang menggunakan aplikasi PLN Mobile.

Kemudian, agar tiang listrik dapat termanfaatkan menjadi SPKLU, PLN mengubah atau menambah fitur yang ada di dalam tiang listrik itu.

“Karena ini biayanya jauh lebih murah dan kami bisa memilih Lokasi yang sangat strategis, misalnya di tempat-tempat umum, di mana banyak sekali kendaraan listrik yang parkir di daerah tersebut, kami langsung bisa mengubah tiang listriknya jadi SPKLU,” jelas Darmawan.

Terlepas dari itu, Dermawan mengungkapkan, sampai April 2024, pihaknya sudah membangun sebanyak 1.380 SPKLU di 956 lokasi yang tersebar di 8 provinsi di Indonesia.