News - Pergeseran (shifting) perdagangan dari Cina ke Amerika Serikat dilakukan oleh negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Hal itu terlihat dari naiknya realisasi ekspor dan impor ke Amerika Serikat yang tumbuh lebih tinggi.

Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS), M. Habibullah, mengungkapkan nilai ekspor non migas Indonesia ke Cina Mei 2024 sebesar US$4.731,9 juta, turun 10,59 persen dari April 2024. Secara kualitatif dari Januari-Mei 2024 nilai ekspor ke Cina turun 11,75 persen.

Pada saat yang sama, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat naik lebih tinggi, yakni 24,46 persen secara bulanan dan memingkat 8,15 persen secara komulatif, menjadi US$2.184,4 juta.

"Nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok pada Januari-Mei 2024 turun sebesar 11,95 persen dibandingkan Januari-Mei 2023. Komoditas yang diekspor adalah besi, baja kode has 72 dan bahan bakar mineral," kata Habibullah, di Jakarta, Rabu (19/6/2024).

Jika dirinci, nilai ekspor komoditas besi dan baja pada tiga bulan pertama 2024 sebesar US$6,64 miliar. Sedangkan nilai ekspor bahan bakar mineral sebesar US$5,28 miliar.

"Nilai ekspor Indonesia ke AS pada Januari-Mei 2024 naik 8,15 persen. Komoditas yang diekspor adalah mesin dan perlengkapan elektrik dan pakaian serta aksesorisnya," lanjutnya.

Di sisi lain, impor non migas dari China ke Indonesia pada periode Januari-Mei 2024 sebesar US$27.101,8 juta, naik 7,84 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Dan impor non migas dari Amerika Serikat ke Indonesia pada Januari-Mei 2024 justru turun 2,57 persen menjadi US$3.782,4 juta.

Namun, secara bulanan impor non migas dari Amerika Serikat melonjak hingga 44,35 persen. Sedangkan dari Cina hanya naik 31,37 persen.

"Tiongkok masih menjadi negara utama asal impor non migas Indonesia dengan kontribusi mencapai 36,34 persen dari total impor non migas,” ujar Habibullah.

Dari sisi komoditas, salah satu barang yang banyak diimpor Indonesia dari Cina adalah pakaian dan aksesori tidak rajutan atau kaitan, yang mencapai 30,28 persen dari total impor pakaian yang sebesar US$79,97 juta dari Januari-April 2024.

Sementara itu, anjloknya ekspor ke Cina disebabkan turunnya kinerja ekspor mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, mesin/perlengkapan elektrik serta bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik. Hal ini membuat neraca perdagangan dari Indonesia ke Cina defisit hingga US$1,32 miliar.

"Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan beberapa negara, 3 terdalam adalah Tiongkok US$1,32 miliar, Australia US$540 juta, dan Thailand US$320 juta," kata Habibullah.