News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berada di bawah level 7.000 sejak Rabu (5/6/2024). Padahal, di penutupan perdagangan hari sebelumnya IHSG sempat menguat dan kembali di kisaran harga 7.000, tepatnya di level 7.099,31.

Pada penutupan perdagangan Jumat (14/6/2024), IHSG kembali berada di zona merah, yakni di level 6.745,57. Turun 1,26 persen dari penutupan perdagangan Kamis (13/6/2024) yang masih di level 6.831,56.

Secara mingguan, IHSG hari ini merosot 2,51 persen dari penutupan perdagangan Jumat (9/6/2024).

“Pada akhir perdagangan Jumat pekan kemarin, IHSG berada pada posisi 6897.95, di mana mencatatkan daily return -1.1 persen, month to date (week to date) -1.04 persen, year to date -5.15 persen,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon (PMDK) OJK Inarno Djajadi, dalam keterangan yang diterima Tirto, Jumat (14/6/2024).

Inarno bilang, melemahnya IHSG sepekan terakhir salah satunya terjadi karena kinerja lebih dari 50 persen emiten mengalami penurunan. Amblesnya kinerja para emiten ini pun juga tidak lepas dari tren suku bunga tinggi, baik di global maupun domestik.

“Dari sisi fundamental emiten, berdasarkan rilis data keuangan triwulan I 2024, lebih dari 50 persen emiten kinerjanya menurun dan data agregat profit tercatat turun,” imbuh mantan Bos Bursa Efek Indonesia (BEI) itu.

Inarno menilai, jika kondisi ini terus berlangsung, jelas akan mempengaruhi akselerasi kinerja emiten di bursa saham. Oleh karena itu, agar kekhawatirannya tidak terjadi, Inarno telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang semuanya tergabung dalam satu payung, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Hal ini dilakukan tidak hanya mengantisipasi dampak pelambatan ekonomi pada bursa saham saja, melainkan juga untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

“Kedua, mengimbau para pelaku pasar untuk bersikap rasional serta mempertimbangkan faktor-faktor, baik fundamental maupun sentimen-sentimen dalam penentuan keputusan berinvestasi,” ujarnya.

Kemudian, para pelaku pasar juga bisa melakukan close monitoring bersama dengan Self-Regulatory Organization (SRO) terhadap transaksi, untuk memastikan pasar berjalan secara teratur, wajar, dan efisien.

Selanjutnya, para investor juga bisa melakukan brainstorming dengan SRO, asosiasi, maupun pelaku pasar lainnya.

“Ini untuk mendapatkan insight, masukan, dalam pengembangan kebijakan dan peraturan ke depan,” pungkas Inarno.