News - Pengangguran yang timbul akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan menjadi salah satu faktor utama penyumbang meningkatnya angka kriminalitas. Banyak kasus kriminalitas di negeri ini berakar pada masalah ekonomi.

Ketika individu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka karena ketiadaan pekerjaan, mereka sering kali merasa terdesak dan terpaksa mencari jalan keluar melalui cara-cara yang melanggar hukum. Persoalan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat ini sering kali berhubungan erat dengan masalah ketenagakerjaan.

Kurangnya kesempatan kerja membuat banyak orang tidak memiliki sumber pendapatan yang stabil. Ketidakstabilan ekonomi ini menciptakan tekanan besar yang pada gilirannya dapat mendorong mereka untuk melakukan tindakan kriminal sebagai upaya terakhir.

Sebab itu, untuk mengatasi masalah pengangguran melalui penciptaan lapangan pekerjaan yang memadai merupakan langkah penting untuk menekan angka kriminalitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Pemerintah dan sektor swasta perlu berkolaborasi untuk mengembangkan program pelatihan keterampilan. Langkah tersebut untuk mendukung usaha kecil dan menengah serta menarik investasi yang dapat menciptakan lebih banyak peluang kerja.

“Kalau kesempatan ada dan lingkungan mendorong, hampir pasti perbuatan menyimpang yang serius seperti kejahatan akan terjadi,” kata Kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, kepada Tirto, Jumat (14/6/2024).

Sepanjang 2023, Kepolisian RI (Polri) mencatat terdapat 288.472 kejahatan terjadi di Indonesia. Jumlah Tersebut mengalami kenaikan 4,33 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 276.507 kasus. Trennya cenderung naik sejak 2016. Namun, angkanya sempat mengalami penurunan hingga 12,92 persen pada 2019.

KASUS PENCURIAN DENGAN PEMBERATAN

Petugas berpakaian sipil menggiring tersangka kasus pencurian dengan pemberatan, KDN (32), saat gelar perkara di Polrestabes Semarang, Jateng, Rabu (7/12). Polisi meringkus tersangka yang sering melakukan aksi kejahatan dengan modus menyamar sebagai petugas servis pendingin udara itu bersama berbagai barang bukti hasil kejahatan dengan nilai kerugian para korbannya mencapai ratusan juta rupiah di sejumlah lokasi. ANTARA FOTO/R. Rekotomo/kye/16.

Sementara dalam waktu 15 hari, sejak 1 sampai 15 Maret 2024, Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Polres jajaran juga berhasil mengungkap 352 kasus dan menangkap 409 orang. Dari 352 kasus tersebut terdiri dari 71 kasus target operasi (TO) dan 281 non(TO).

Lalu, 114 kasus pencurian dengan pemberatan, 59 kasus pencurian dengan kekerasan, dan 182 kasus pencurian kendaraan bermotor.

Dalam Operasi Kewilayahan Pekat Jaya 2024 Ditreskrimum dan Sat Reskrim Jajaran juga berhasil mengungkapkan beberapa kasus yang meresahkan yaitu, 13 kasus judi, 132 botol minuman keras, 3 kasus pemerasan, 21 kasus undang-undang darurat. Kemudian, 3 kasus pembunuhan, 6 kasus penganiayaan berat, 24 kasus pencurian, serta 23 kasus lainnya.

“Kriminalitasitu terjadi pada angka pengangguran yang tingkat pendidikannya rendah. Apalagi Pengangguran itu adalah anak-anak muda itu kaitannya dengan kriminalitas. Jelas itu,” ujar Pengamat Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjudin Nur Effendi, saat merespon korelasi antara pengangguran terhadap kriminalitas, kepada Tirto, Jumat.

Bursa kerja di Jakarta

Sejumlah pencari kerja antre untuk masuk ke dalam area Pameran Bursa Kerja di Thamrin City, Jakarta, Selasa (28/5/2024). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.

Jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pengangguran RI tercatat sebanyak 7,20 juta orang per Februari 2024. Hal ini setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,82 persen.

Jumlah orang yang menganggur ini tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yaitu 7,99 juta orang.

Apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh angkatan kerja,jumlah pengangguran terbanyak datang dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Cukup mengenaskan mengingat justru angkatan kerja yang memiliki pendidikan cukup tinggi.

Tingkat pengangguran terbuka tamatan SMK masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya sebesar 8,62 persen. Kemudian, posisi kedua yaitu TPT tamatan SMA sebesar 6,73 persen. Sementara itu, TPT yang paling rendah adalah pendidikan SD ke bawah mencapai 2,38 persen.

“Apalagi pengangguran itu tingkat pendidikan rendah itu sangat dekat dengan kriminal. Kriminal bisa kemudian berkaitan dengan narkoba, perjudian, tipu menipu dan seterusnya,” jelas Tadjudin.