News - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) sampai 31 Mei 2024 mengalami koreksi sebesar 4,15 persen ke level Rp6.970,74. Sedangkan secara bulanan (month to month), harga saham gabungan turun hingga 3,64 persen.

"Dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp11.825 triliun, atau naik 1,29 persen year to date (ytd). Serta membukukan net sale sebesar Rp6,25 triliun year to date," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, OJK Inarno Djajadi, dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, di Jakarta, Senin (10/6/2024).

Selain pasar saham, industri pengelolaan investasi juga mencatatkan penurunan kinerja, dengan nilai Asset Under Management (AUM) pengelolaan investasi turun 0,27 persen (ytd) menjadi Rp822,48 triliun pada akhir Mei 2024. Penurunan itu, kata Inarno, disertai dengan aksi jual bersih (net-redemption) sebesar Rp75,94 triliun.

Tidak seperti IHSG dan dana kelolaan yang lesu, indeks pasar obligasi (Indonesia Composite Bond Index/ICBI) menguat 1,53 persen (ytd) ke level 380,33, dengan yield Surat Berharga Negara (SBN) pada 30 mei rata-rata mengalami kenaikan sebesar 24,07 basis poin (bps).

"Dan non residen mencatatkan net sell sebesar Rp34,72 triliun," tambah Inarno.

Pada saat yang sama, penghimpunan dana di pasar modal masih mencatatkan tren positif, dengan nilai penawaran umum sebesar Rp86,92 triliun dari 18 emiten yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Di sisi penggalangan dana dari security crowdfunding, hingga mei 2024 telah terdapat 17 penyelenggara, 546 penerbit, 174 ribu pemodal yang telah mendapatkan izin dari OJK.

Dari security crowdfunding, total dana yang dihimpun mencapai Rp1,13 triliun sampai akhir Mei 2024. Sementara itu, pada bursa karbon, sejak diluncurkan pada 26 September 2023-31 Mei 2024, tercatat 62 pengguna jasa yang telah mendapatkan izin dari OJK.

"Dengan total volume karbon sebesar 608 ribu ton ekuivalen dan akumulasi nilai sebesar Rp36,77 miliar," imbuh Inarno.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengatakan sektor jasa keuangan nasional masih cukup kuat di tengah ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah dan perang dagang yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Cina.

Masih cukup kuatnya sektor jasa keuangan didukung oleh pemodalan yang kuat dan likuiditas memadai, serta pertumbuhan ekonomi nasional yang masih tinggi.

Bahkan, menurut Mahendra, ekonomi Indonesia kuartal I kemarin berhasil tumbuh lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Dengan pertumbuhan didukung oleh pengeluaran pemerintah seperti pemilu dan lembaga non-profit yang melayani konsumsi rumah tangga.

"Sejalan dengan periode pemilu, kebijakan kenaikan gaji, dan pembayaran THR ASN atau pensiunan serta periode Ramadan dan Lebaran," jelas dia.