News - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan mencatatkan surplus selama 49 bulan berturut-turut. Dengan nilai pada Mei 2024 sebesar US$2,93 miliar, naik US$0,21 miliar secara bulanan.

“Surplus Mei 2024 ini lebih tinggi dibandingkan dengan (bulan) sebelumnya dan bulan yang sama tahun lalu,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, Habibullah, di Jakarta, Rabu (19/6/2024).

Surplus neraca perdagangan ini ditopang oleh komoditas non migas sebesar US$4,26 miliar, dengan komoditas penyubang bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja. Sebaliknya, surplus neraca perdagangan Mei tereduksi oleh defisit dari sektor migas yang sebesar US$1,33 miliar.

Secara kumulatif, sejak Januari – Mei 2024 sektor migas mengalami defisit US$8,07 miliar. “Dengan komoditas penyumbang defisit yaitu hasil minyak serta minyak mentah. Defisit neraca perdagangan migas lebih rendah Daripada bulan sebelumnya dan bulan yang sama tahun lalu,” ujar Habibullah.

Saat neraca perdagangan mengalami surplus, impor Mei 2024 turun 8,83 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, menjadi US$19,40 miliar. Meski begitu, realisasi ini mengalami peningkatan 14,82 persen dibanding April 2024 yang sebesar US$16,06 miliar.

“Nilai impor migas dan non migas masing-masing turun sebesar 12,34 persen dan 8,23 persen,” imbuhnya.

Penurunan impor non migas disebabkan oleh penurunan komoditas kendaraan dan bagiannya, besi dan baja, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya. Dengan nilai impor non migas Mei 2024 sebesar US$16,65 miliar.

Di sisi lain, impor migas Mei 2024 tercatat senilai US$2,75 miliar, nilai ini turun 7,91 persen secara bulanan. Penurunan impor migas disebabkan oleh berkurangnya impor hasil minyak hingga 11,00 persen menjadi US$236,4 juta, sebaliknya impor minyak mentah justru naik tipis 0,03 persen menjadi US$0,3 juta.

“Secara kumulatif (Januari) hingga Mei 2024, total impor Indonesia mencapai US$91,19 miliar, turun 0,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan nilai terjadi pada impor non migas, sedangkan impor migas mengalami kenaikan,” jelas Habibullah.