News - Suatu hari yang cerah warsa 1960-an, Indonesianis Benedict Anderson mengitari pasar loak di Surabaya. Saat asyik menyisiri satu kios ke kios lain, matanya tiba-tiba tertuju pada satu buku lusuh bertajuk Indonesia dalem Api dan Bara.

Ben tergelitik melihat nama penulisnya: Tjamboek Berdoeri. Unik, pikirnya. Tanpa penerbit dan hanya tercantum tempat dan waktu terbit, Malang tahun 1947. Ben akhirnya membeli buku itu.

"Ketika saya bertanya kepada teman-teman tentang buku tersebut, ternyata hanya satu dari mereka yang pernah mendengarnya, apalagi membacanya, dan orang tersebut tidak tahu siapa sebenarnya Tjamboek Berdoeri itu," catat Ben Anderson dalam buku A Life Beyond Boundaries: A Memoir (2018).

Kosongnya oase pustaka tentang siapa sosok Tjamboek Berdoeri membuat Ben bertekad melacak identitas orang itu.

Dari ragam teman yang ia temui, hanya Ong Hok Ham yang sekilas pernah membaca dan tidak punya petunjuk siapa Tjamboek Berdoeri. Ben akhirnya berangkat ke Cornell pada 1964 untuk menyumbangkan salinan buku Tjamboek Berdoeri ke bagian buku langka di perpustakaan Cornell.

Publikasi Cornell Paper (1971) menjegalnya untuk masuk ke Indonesia dan menghentikan sementara penelusuran tentang Tjamboek Berdoeri. Jatuhnya Orde Baru mewujudkan impian Ben yang tertunda puluhan tahun.

Pencarian yang penuh dinamika menemui ujung saat Ben tahu bahwa Tjamboek Berdoeri adalah Kwee Thiam Tjing.