News - Kalangan agamawan memiliki posisi yang penting dalam kebudayaan Jawa Kuno. Bukan hanya karena tingkat spiritualitas, melainkan juga karena tingkat intelektualitasnya.

Bayangan akan kehidupan kaum agamawan pada masa Jawa Kuno tergambar jelas dari data-data tekstual masa Majapahit.

Andriyati Rahayu pada disertasinya yang berjudul Kehidupan Kaum Agamawan Masa Majapahit Akhir: Tinjauan Epigrafis (2016), mengungkapkan bahwa lembaga keagamaan yang diisi oleh agamawan pada masa Jawa Kuno memiliki sifat yang otonom.

Independensi kaum agamawan ini sifatnya diakui oleh negara, sehingga raja biasanya tidak mencampuri persoalan-persoalan yang tumbuh di kalangan agamawan. Mereka hidup dalam satuan-satuan wilayah yang disebut sebagai mandala--tanah tempat mereka tinggal yang dibebaskan dari pungutan pajak.

Mandala sering kali berlokasi di daerah-daerah yang jauh dari pusat keramaian, seperti di atas gunung, di daerah hutan larangan, dan lain sebagainya. Kaum agamawan dalam aktivitasnya di mandala tidak melulu perihal peribadatan, tapi juga termasuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Imbasnya, beberapa mandala di Tanah Jawa kadang kala juga berstatus sebagai skriptorium atau tempat diproduksinya naskah kuno. Maka itu, agamawan juga sering kali berstatus sebagai sarjana.

Menurut Dani Sunjana dalam “Gunung sebagai Lokasi Skriptoria Masa Sunda Kuno” (2019), beberapa mandala di Jawa dan Sunda yang difungsikan pula sebagai skriptorium.

Mandala yang paling dikenal sebagai skriptorium di wilayah etnis Jawa adalah Gunung Damalung (Merbabu), Kampud (Kelud), Mahameru (Semeru), Karungrungan (Ungaran), Pawitra (Penanggungan), Lawu, Wiliu, Kawi, dan sebagainya.

sedangkan di Tatar Sunda, naskah-naskah banyak diproduksi di Gunung Galunggung, Gunung Sri Manganti (Cikuray), Gunung Mahapawitra (Raksa), dan sebagainya.

Di antara mandala-mandala ini ada yang produk-produk naskahnya masih tersisa seperti di Gunung Merbabu, dan banyak pula yang sudah disalin dan berpindah ke daerah lain seperti Bali.

Terlepas dari keterkaitan antara agamawan dan dunia literasi, sebagian pujangga-agamawan ini memiliki cita rasa romantis yang tertuang dalam karya-karya sastranya.

Sebagian di antara mereka membuat saduran kisah-kisah fiksi yang sarat akan nilai romantisme dan filosofi, sebagian lagi mengadopsi kisah hidupnya sendiri sebagai suri teladan yang dramatis.