News - Direktur Utama PT Bio Farma Persero, Shadiq Akasya, mengakui akan memangkas 5 pabrik yang sebelumnya berjumlah 10 pabrik fasilitas obat dalam kurun waktu 3-5 tahun ke depan.Dia menuturkan langkah tersebut dalam rangka pembenahan lini bisnis BUMN holding farmasi.

"Dengan banyaknya pabrik yang ada sekarang di PT Kimia Farma itu ada 10 plan yang ada, dan kita akan coba merencanakan untuk streamlining sampai dengan mungkin 3-5 tahun ke depan itu kita harapkan dengan 5 pabrik saja sudah cukup," kata Shadiq dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (19/6/2024).

Holding Farmasi ini juga melakukan upaya-upaya perbaikan terhadap beberapa hal. Pertama, dari sisi strukturisasi keuangan yaitu dengan restrukturisasi kredit jangka pendek dan jangka panjang.

Kemudian, Shadiq juga menyoroti akan rekondisi penataan kredit seperti penurunan suku bunga. Kemudian melakukan penjadwalan ulang terkait jatuh tempo angsuran.

"Untuk tahap pertama ini terhadap restrukturisasi keuangan lebih difokuskan kepada PT Kimia Farma," ujar Shadiq.

Reorientasi bisnis juga menjadi fokus utama yang saat ini sedang berjalan yakni melalui penataan dan pengembangan produk dengan melakukan sistem pelurusan produk. Kemudian perlakuan kepada produk-produk yang tumpang tindih di Bio Farma Group.

Lebih lanjut, reorientasi bisnis ini juga melakukan penataan kapasitas produksi dan rantai pasok yang terintegrasi, melakukan identifikasi dan eksekusi terhadap fasilitas produksi di PT Kimia Farma, serta penambahan fasilitas baru di Bio Farma.

Lalu, reorientasi bisnis juga dijalankan melalui penyertaan modal negara (PMN) dengan meningkatkan pengembangan kapabilitas. Kemudian kapasitas perawatan kesehatan di Bio Farma Group dengan mengembangkan ekosistem kesehatan digital.

"Mengembangkan vaksin mRNA & Viral Vector dan membangun fasilitas BBO, Alkes & Herbal," kata Shadiq.

Dalam laporan terbaru dari Holding Farmasi dipaparkan mengalami kondisi penurunan cukup signifikan. PT Indofarma Tbk tercatat mengalami penurunan pendapatan atau net income sebesar -41,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2023, atau setara minus Rp605 miliar.

Sememtara itu, PT Kimia Farma Tbk dilaporkan memiliki net income minus Rp1,82 triliun pada 2023 dengan posisi keuangan yang juga minus 11,2 persen yoy atau Rp17,5 triliun.