News - Seorang anak di Cirebon, Jawa Barat yang diduga depresi setelah gawainya dijual oleh orang tua menyita perhatian warganet di media sosial. Dalam berbagai pemberitaan, disebut bahwa orang tua sang anak terpaksa menjual gawai itu karena terdesak kebutuhan ekonomi. Orang tua tersebut lantas merasakan perubahan sikap sang anak yang mulai melamun, marah, dan sering mengamuk dengan menendang barang di rumah.

Kisah bocah berumur 13 tahun yang diduga depresi ini pun sampai ke telinga Presiden Joko Widodo. Lewat Staf Kementerian Sekretariat Negara, Puput Hariadi, Jokowi memberikan bantuan langsung ke rumah anak berinisial A tersebut, yang tinggal di Kota Cirebon, Senin (13/5/2024). Puput menyatakan bantuan itu berupa biaya pendidikan dan merupakan amanah Presiden Jokowi yang merasa prihatin usai mendengar kabar A melalui media sosial.

Kondisi depresi pada anak bukan merupakan hal yang patut disepelekan. Relasi anak dan orang tua sudah sepatutnya harus menjaga dan memahami soal kondisi kesehatan mental anak. Sehingga tindakan pendisiplinan atau keputusan orang tua yang menyangkut anak, tetap memperhatikan kepentingan terbaik buat si buah hati, terutama bagi kondisi kesehatan fisik dan mental mereka.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Aris Adi Leksono, menilai salah satu bentuk mempertimbangkan kepentingan terbaik buat anak adalah mengambil langkah komunikasi dan diskusi dengan anak. Diskusi dilakukan meliputi situasi yang tengah dialami atau dirasakan anak, dan menggali pendapat anak untuk mendapatkan solusi terbaik.

“Situasi kesehatan mental anak di tengah pengaruh media sosial dan pergaulan lingkungan cukup rapuh. Sehingga perlu memahami situasi anak secara mendalam, memberikan perhatian dan pengawasan, serta langkah mitigasi tertentu jika dibutuhkan,” kata Aris kepada reporter Tirto, Kamis (16/5/2024).

Menurut Aris, jika ada tanda perubahan perilaku pada anak, orang tua harus mengambil langkah komunikasi dengan anak untuk memahami apa yang tengah mereka rasakan. Jika ditemukan ada indikasi gangguan kesehatan mental pada anak, orang tua bisa segera menanyakan kondisi tersebut ke profesional layanan kesehatan bidang kejiwaan.

“Jika mengalami kesulitan dalam pemulihan depresi dapat mengakses layanan psikolog profesional yang disediakan pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan, DP3KB, atau layanan UPTD PPA,” pesan Aris.

Prinsipnya, kata Aris, orang tua harus menyadari akan tanggung jawab melindungi anak, serta memberikan pengasuhan terbaik bagi anak. Pada situasi konflik berat antara orang tua dan anak, maka keterlibatan aparat lingkungan (RT/RW dan tetangga) sangat memiliki peran penting. Pihak ketiga bisa melakukan mediasi, memberikan nasihat, bahkan jika diperlukan perlu memfasilitasi tempat aman sementara pada anak seperti rumah aman.

Aris memandang, masih banyak orang tua atau keluarga terdekat yang abai terhadap situasi kesehatan mental dan perlindungan anak. Buktinya, kasus tertinggi pengaduan pelanggaran perlindungan anak yang diterima KPAI justru terjadi di lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif.

“Lemahnya literasi perlindungan anak pada lingkungan keluarga [merupakan faktornya], khususnya literasi pengasuhan yang memperhatikan prinsip dasar perlindungan anak, non-diskriminasi, prinsip kepentingan terbaik, prinsip hak hidup dan perkembangan,” ungkap Aris.