News - Pada 29 Maret 1977, Johannes Leimena wafat di Jakarta. Dia adalah pahlawan nasional sekaligus menteri yang paling lama menjabat selama era Presiden Sukarno. Leimena duduk dalam 18 kabinet berbeda dengan masa jabatan yang merentang selama hampir 20 tahun.

Sebelum jadi dokter, Leimena ikut terlibat aktif dalam Kongres Pemuda II 1928. Leimena yang dikenal sebagai eksponen Jong Ambon ini ikut dalam kepanitiaan kongres sebagai Pembantu IV. Selain di Jong Ambon, Leimena juga aktif dalam Christelijke Studentenvereniging (CSV).

Aktivisme Leimena tentu tak berhenti di momen itu saja. Dia lulus dari Sekolah Pendidikan Dokter Hindia atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1930. Setelah itu, dia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran atau Geneeskundig Hooge School (GHS) pada 1939.

Leimena pernah menjadi dokter zending di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Menurut Hans Pols dalam Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (2019, hlm. 281), agama Kristen dan cita-cita akan keadilan sosial adalah dua bibit motivasi yang menggerakkan Leimena.

Presiden Sukarno amat kagum pada karakter dan sangat percaya pada Leimena. Hal itu dia terangkan secara gamblang dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2007) yang ditulis Cindy Adam.

“Ambilah misalnya Leimena...saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui,” aku Sukarno.

Apa yang dikatakan Sukarno bukanlah omongan seorang politisi. Leimena beberapa kali dipercaya oleh Presiden Sukarno untuk menjadi menteri kesehatan. Selama menjadi menteri, Leimena tertarik dengan bantuan dan saran ahli organisasi kesehatan soal pelayanan kesehatan.

Salah seorang kolega Leimena adalah Abdoel Patah (1898-1959), seniornya di STOVIA yang lulus pada 1921. Dokter kelahiran Majalaya, Jawa Barat itu kemudian melanjutkan belajar ilmu kedokteran di Belanda pada 1930-an. Disertasinya berjudul De Medische Zijde van de Bedevaart naar Mekka.

“Abdoel Patah beberapa kali mengikuti kapal haji dan tujuh tahun lamanya bekerja di perwakilan Belanda di Jeddah,” tulis Harry Poeze dalam Di negeri penjajah: orang Indonesia di negeri Belanda, 1600-1950 (2008).