News - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor pakaian dan aksesorisnya rajutan atau kaitan (Kode HS 61 pada Mei 2024 tercatat sebesar 24,83 juta dolar AS. Angka ini naik dari bulan sebelumnya yaitu 22,86 juta dolar AS.

Meski begitu, impor pakaian dan aksesoris rajutan pada April 2024 tampak lebih landai dari realisasi di Maret yang senilai 24,91 juta dolar AS. Pada saat yang sama impor pakaian dan aksesoris bukan rajutan juga mengalami kenaikan dari 19,38 juta dolar AS pada April 2024 menjadi 24,78 juta dolar AS di Mei 2024. Nilai impor pakaian dan aksesoris bukan rajutan pada April pun lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 24,91 juta dolar AS.

“Impor pakaian dan aksesorisnya atau kode HS 61 dan 62. Impor pakaian dan aksesorisnya, baik rajutan maupun bukan rajutan menunjukkan tren fluktuatif yang cenderung dipengaruhi oleh pola musiman, yaitu hari raya nasional ataupun keagamaan. Antara lain tren peningkatan nilai impor mengantisipasi peningkatan permintaan komoditas pakaian menjelang Lebaran” kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, di Jakarta, Rabu (19/6/2024).

Tidak hanya di tahun ini, pola ini pun terlihat juga tahun-tahun sebelumnya. Desember 2023 yang bertepatan dengan Hari Raya Natal misalnya, tren impor mengalami kenaikan dari di November senilai 23,10 juta dolar AS untuk pakaian dan aksesoris rajutan menjadi 27,03 juta dolar AS.

Lalu untuk komoditas pakaian dan aksesoris bukan rajutan pada Desember tahun lalu tercatat 28,02 juta dolar AS, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar 21,80 juta dolar AS.

Sementara pada Lebaran 2023 yang jatuh pada April 2023, impor pakaian nampak mengalami kenaikan pada Maret 2023. Dengan realisasi impor pakaian dan aksesoris rajutan sebesar 35,10 juta dolar AS, melonjak dari sebelumnya sebesar 17,83 juta dolar AS, serta pakaian dan aksesoris bukan rajutan menjadi 31,53 juta dolar AS dari sebelumnya 13,33 juta dolar AS.

“Nilai impor komoditas ini menunjukkan tren meningkat pada bulan-bulan menjelang hari raya Lebaran, pola tersebut terlihat baik di tahun ini maupun tahun lalu,” tutur Habibullah.

Dari negara asalnya, secara kumulatif pada Januari-Mei 2024 impor pakaian dan aksesoris rajutan mayoritas masuk dari Cina, dengan kontribusi mencapai 38,76 persen dari total impor komoditas kode HS 61. Kemudian disusul oleh Bangladesh yang sebesar 10,36%, Vietnam 13,99%, dan Turki 5,02%.

Sementara untuk impor komoditas pakaian dan aksesoris bukan rajutan dari Cina sebanyak 30,28% dari total impor komoditas itu. Selanjutnya, impor paling banyak berasal dari Bangladesh 11,00%, Vietnam 8,91%, dan Hongkong 8,57%.

“Secara kumulatif, negara utama asal impor pakaian dan aksesorisnya antara lain, Tiongkok, Bangladesh dan Vietnam,” kata Habibullah.