News - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor komoditas nikel pada Januari 2024 sebesar 496,96 juta dolar AS atau turun sekitar 5 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Desember 2023 nilai ekspor sebesar 521,8 juta dolar AS.

Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, membeberkan volume ekspor nikel Indonesia juga menurun tajam menjadi 123,17 ribu ton pada Januari 2024, dibanding volume ekspor bulan sebelumnya yang sebesar 126 juta ton.

“Volume ekspor Januari [2024] 123,17 ribu ton, dengan nilai ekspor 496,96 juta dolar AS. Share nilai ekspor nikel terhadap ekspor non migas Januari tercatat 2,6 persen,” kata Amalia dalam konferensi pers perkembangan impor dan ekspor di Kantor BPS, Januari, Kamis (14/2/2024).

Lebih lanjut, secara umum komoditas logam dan mineral, yang termasuk di dalamnya terdapat nikel dan batu bara, mengalami penurunan harga di pasar internasional pada Januari 2024.

“Harga komoditas logam dan mineral mengalami penurunan baik secara bulanan maupun tahunan,” ucap Amalia.

Amalia menambahkan, harga komoditas logam dan mineral pada Januari 2024 turun sebesar 0,34 persen secara bulanan, sedangkan secara tahunan merosot tajam sebesar 10,51 persen.

Dirinya mengungkapkan bahwa penurunan harga tersebut seiring dengan tren harga komoditas di pasar internasional yang juga menurun dibandingkan Desember 2023.

“Harga komoditas logam dan mineral mengalami penurunan, baik secara bulanan maupun tahunan,” kata dia.

Selanjutnya, pertumbuhan volume perdagangan barang global diperkirakan mengalami perlambatan sepanjang 2024. Sementara, perkembangan pertumbuhan nilai perdagangan barang secara lobal pada kisaran 2 persen.

Diwartakan sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengungkapkan selama ini proses hilirisasi nikel tidak sepenuhnya berjalan di Indonesia. Selain karena industri di hilirnya belum siap, pengolahan nikel dalam negeri masih diserahkan ke Cina.

Indonesia baru mengolah bahan mentah menjadi bahan baku hingga saat ini, belum ada produk jadi bisa dihasilkan yang nilai tambahnya jauh lebih tinggi. Alhasil, Ibu Pertiwi belum mampu memaksimalkan manfaat dari komoditas nikel.

"Memang apa yang disampaikan pemerintah hilirisasi membawa nilai tambah betul. Tetapi kita belum mendapatkan nilai tambah yang optimal," ujar Fabby kepada Tirto, Jumat (26/1/2024).