News - Keberuntungan tak datang dengan mulus. Manusia melewati berbagai rangkaian peristiwa, ada malapetaka yang mustahil dihindari. Sementara malaikat sejarah awas, matanya menatap, mulutnya menganga, sayapnya mengepak terbuka. Wajahnya mengarah ke masa lalu, menyaksikan rentetan sejarah manusia. Ingin ia memulihkan apa yang hancur. Tapi tatkala badai berhembus dari Firdaus, sayapnya terperangkap dengan kekerasan hingga ia tak bisa menutupnya. Badai mendorongnya ke masa depan. Badai ini dinamakan kemajuan.

Melalui pengandaian itu, Walter Benjamin ingin menyebut bahwa malapetaka merupakan rangkaian sejarah. Malapetaka ialah kemajuan dan kemajuan ialah malapetaka. Sebab itu, konsep kemajuan harus didasarkan pada ide malapetaka.

Pemikir muslim Jerman, Ahmad Milad Karimi, menggunakan tamsil Benjamin untuk mengungkapkan para pengungsi seperti dirinya yang tertimpa musibah lalu harus mencari suaka. Baginya, tidak ada Eropa kecuali para pengungsi. Eropa seolah-olah tak terhindarkan dari rangkaian malapetaka, justru untuk kemajuan.

Lahir di Kabul pada 1979, Karimi beserta keluarganya lari dari perang Afganistan pada 1992. Lebih dari setahun mereka ada di tangan penyelundup hingga berhasil menuju New Delhi dan Moskow, lalu tiba di Jerman.

Autobiografinya, Osama bin Laden schläft bei den Fischen (Osama bin Laden Tidur bersama Ikannya, 2015), merangkum perjalanan hidupnya yang seakan-akan terperangkap dalam dua kutub yang tak pernah akur: budaya populer Barat dan sejarah intelektual Islam, penerjemahan Al-Qur'an dan penulisan Hegel, kegemaran menonton film mafia dan mistisisme Persia, masa kecil di kalangan atas Afganistan dan pengungsi ilegal, pencari suaka di sebuah kota di Jerman dan profesor di salah satu kampus keren. Karimi menggenggam keduanya.

Kontradiksi itu barangkali mengingatkannya pada malapetaka dan rangkaian sejarah menuju kemajuan. Tak banyak warga Jerman dengan latar belakang pengungsi yang jatuh cinta pada filsafat Jerman. Karimi belajar filsafat, matematika, dan studi Islam di Universitas Albert Ludwig di Freiburg dan Universitas Delhi. Ia memperoleh doktor di Freiburg dengan disertasi tentang Hegel dan Heidegger. Sejak 2012 ia menjadi profesor dalam bidang ilmu kalam, filsafat Islam, dan sufisme di Zentrum für Islamische Theologie(ZITh) di Universitas Münster.

Karimi beruntung. Ia menjadi salah satu tulang punggung dan masa depan ZITh yang dibentuk sejak 2000-an awal di seluruh Jerman sebagai inisiatif untuk mendirikan sejenis Institut Agama Islam Negeri versi Jerman. Berbeda dari Islamwissenschaft (kajian Islam) yang dulu masuk ke dalam wilayah Orientalistik (kajian ketimuran) dan lebih menekankan sejarah dan filologi, ZITh bertujuan sebagai lembaga pendidikan teologi dan keagamaan khusus untuk mengkader pemimpin muslim di negeri itu.