News - Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, menuturkan tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan terus berlanjut hingga akhir tahun atau kuartal IV-2024.

Menurut dia, sentimen penguatan rupiah hingga akhir 2024 hanya terdorong oleh adanya momentum pemilihan kepala daerah (pilkada) dan masa libur akhir tahun. Dari dua sentimen tersebut, rupiah akan menguat seiring perputaran ekonomi yang terjadi.

“Sampai akhir tahun dugaan saya akan ada booster di kuartal IV-2024 karena ada pilkada dan libur akhir tahun, tapi memang secara umum rupiah ini akan cenderung tidak stabil,” ungkap Eko dalam acara di Jakarta, Selasa (25/6/2024).

Tidak stabilnya nilai tukar rupiah meski ada pilkada dan libur panjang dikarenakan pengusaha hingga saat ini masih banyak bergantung pada bahan baku impor, yang mana dibarengi dengan pemburuan dolar AS sehingga rupiah terus tertekan.

“Pengusaha tahu akan ada peluang untuk bisa jualan lebih banyak [saat pilkada dan libur panjang] cuma bahan bakunya harus didatangkan dari impor. Otomatis mereka memburu dolar AS untuk bisa mencukupi kebutuhan itu," ujar Eko.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta W Kamdani, juga membenarkan bahwa saat ini bahan baku industri tekstil hingga elektronik di dalam negeri sekitar 70 hingga 80 persen masih didatangkan dari impor.

“Struktur impor Indonesia itu, kan, impor bahan baku penolong lebih dari 70 persen, hampir 74 persen. Di sini kita musti melihat apa pun yang diproduksi di Indonesia itu masih tergantung bahan baku dari luar sehingga ini memang betul kalau pelemahan mata uang pasti kena juga ke situ,” ungkap Shinta.

Dari data Bloomberg, Selasa (25/6/2024), rupiah menyentuh level Rp16.373 per dolar AS, namun menguat 20 poin dari posisi sebelumnya. Tren fluktuatif terlihat karena rupiah sempat juga menyentuh level Rp16.476 pada Jumat (21/6/2024).

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih lebih rendah dibandingkan pelemahan mata uang negara lain, seperti (Won) Korea Selatan, (Baht) Thailand, (Real) Brazil, dan (Yen) Jepang.

Masing-masing mata uang tersebut mengalami pelemahan hingga 6,78 persen, 6,92 persen, 7,89 persen, 10,63 persen, dan 10,78 persen.

“Nilai tukar rupiah hingga 19 Juni 2024 terjaga, meski sempat tertekan 0,70 persen point-to-point, setelah pada Mei 2024 menguat 0,06 persen dibandingkan dengan nilai tukar akhir bulan sebelumnya,” kata Perry, dalam Pengumuman Hasil RDG Juni 2024, di Jakarta, Kamis (20/6/2024).

Penguatan rupiah disebut terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga acuan ke level 6,25 persen pada Mei lalu. Sebaliknya, tren pelemahan yang hingga kini masih terjadi dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, imbas arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (Fed Fund Rate/FFR) yang masih belum pasti.