News - Perkembangan ilmu hadis tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kutubus sittah. Lantas, apa itu kutubus sittah? Siapa para ulama penyusun kutubus sittah? Berikut ini akan dibahas mengenai pengertian kutubus sittah.

Tidak seperti Al-Qur'an yang telah mendapatkan perhatian sejak masa khulafaur-rasyidin, proses pembukuan hadis baru terjadi pada 3 Hijriah.

Setelah di abad ke-2 H, Umar bin Abdul Aziz memprakarsai pembukuan hadis secara resmi, beberapa kitab hadis mulai disusun secara sistematik pada abad ke-3 H seperti Shahib al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, dan Sunan Sa'ad Ibn Al-Mansur.

Hingga kini, para ulama telah berhasil menyusun ratusan kitab hadis. Dari kitab-kitab tersebut, yang paling populer dikenal sebagai al-Kutub as-Sittah (kutubus sittah). Dalam bahasa Arab, kutubus sittah berarti enam kitab induk meliputi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa'i, dan Sunan Ibnu Majah.

Kutubus sittah adalah kitab-kitab hadis yang menjadi standar rujukan para ulama dan kaum muslim untuk menjadi hujah berkaitan dengan hukum, syariat, maupun akhlak. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu (2005) terjemahan Ahmad Sabiq menjelaskan, sebagian ulama berkata sebagai berikut:

"Apabila engkau melihat ada sebuah hadis yang tidak terdapat pada kitab-kitab ini, maka jangan cepat-cepat engkau menghukuminya sehingga engkau benar-benar mentakhrijnya."

Ulama Hadits Penulis Kutubus Sittah

Kutubusitah disusun para ulama yang ahli dalam ilmu hadis. Oleh sebab itu, eksistensi kitab tersebut hingga kini masih terjaga, digunakan secara luas di seluruh dunia sebagai referensi hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an. Berikut ini para ulama penyusun kutubus sittah:

1. Imam Bukhari

Imam Bukhari adalah penulis kitab al-Jami' as-Sahih, salah satu kutubus sittah. Ulama yang bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ju'fi al-Ju'fi al-Bukhari tersebut, lahir pada Jumat, 13 Syawal 194 H di Bukhara.

Pada usia 10 tahun, Imam Bukhari belajar hadis kepada Ad-Dakhili. Setahun setelahnya, diceritakan dalam suatu riwayat Waraqah Muhammad ibn Abi Hatim al-Warraq, Imam Bukhari berani menyanggah kesalahan hadis dari gurunya tersebut di depan umum.

Menginjak usia 16 tahun, Imam Bukhari telah mampu menghafal matan hadis kitab Abdullah ibn al-Mubarak dan Waki' ibn al-Jarrah lengkap dengan sanadnya. Pada usia ini juga, Imam Bukhari pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menetap di sana guna mengkaji hadis.

Setelah 6 tahun di Makkah, Imam Bukhari menjalankan rihlah ilmiyyah li talab al-hadis ke berbagai daerah lain seperti Mesir, Baghdad, Kufah, Himsa, Basrah, Madinah, Syam, hingga Asqalan. Imam Bukhari menghembuskan nafas terakhir di usia ke-62 tahun, sewaktu mengunjungi daerah dekat Samarkand pada 30 Ramadan 256 H.

Beberapa karya Imam Bukhari di antaranya al-Jami' as-Sahih, al-Musnad al-Kabir, al-Adab al-Mufrad, at-Tarikh as-Saghir, al-Awsat, al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, Qadaya as-Sahabah wa at-Tabi'in, ad-Dhu'afa', Asami as-Sahabah, hingga Qira'ah Khalf al-Imam.

2. Imam Muslim

Imam Muslim adalah seorang ulama kelahiran Naisabur, kota kecil di Iran bagian timur pada 204 H/820 M dengan nama lengkap Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj ibn Muslim ibn Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi.

Semenjak kecil, Imam Muslim telah tekun mengkaji hadis. Menginjak usia 12 tahun, Imam Muslim melakukan perjalanan mempelajari hadis dengan destinasi pertama, Makkah pada 220 H. Setelah genap 10 tahun di Makkah, Imam Bukhari melanjutkan perjalanannya ke Irak, Syam, Mesir, Hijaz, hingga Khurasan.

Beberapa guru yang pernah mengajari Imam Bukhari perihal hadis di antaranya Yahya ibn Yahya dan Ishaq ibn Rahawaih di Khurasan, Muhammad ibn Mahram dan Abu Ghassan di Ray, Sa'id ibn Mansur dan Abu Mus'ab di Hijaz, Abdullah ibn Maslamah dan Ahmad ibn Hanbal di Irak, hingga Harmalah ibn Yahya dan Amir ibn Sawwad di Mesir. Imam Muslim juga pernah berguru pada Imam Bukhari sewaktu di Baghdad.

Pada Ahad, 24 Rajab 261 H/875 M, Imam Muslim di usia 55 tahun menghembus nafas terakhirnya. Beberapa kitab yang berhasil disusun Imam Muslim seperti al-Jami' as-Sahih, al-Asma' wa al-Kuna, Man Laisa Lahu Illa Rawin Wahid, al-Musnad al-Kabir, dan Masyayikh as-Sauri.

3. Imam Abu Dawud

Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy'as ibn Ishaq ibn Basyir ibn Syidad ibn Imran al-Azdi as-Sijistani atau lebih populer dikenal sebagai Imam Abu Dawud merupakan ulama kelahiran Basrah pada 202 H/817 M. Berasal dari keluarga yang agamis, membuat Abu Dawud mampu mengkaji Al-Qur'an, hadis, dan bahasa Arab semenjak kecil.

Mencapai usia kira-kira 20 tahun, Abu Dawud melakukan rihlah ilmiyyah ke berbagai tempat mulai Baghdad, Hijaz, Mesir, Irak, Syam, Khurasan, Basrah, hingga Naisabur. Beberapa guru yang pernah mengajari Abu Dawuh seperti Ahmad Ibn Hanbal, Musaddad ibn Musarhad al-Asadi, Ishaq ibn Rahawaih, Amr ibn Aun an-Najili, Quraibah ibn Sa'd as-Saqafi, Yahya ibn Ma'in, Abdullah ibn Maslamah al-Qa'nabi, dan Abu al-Walid at-Tayalisi.

Basrah menjadi tempat mukim terakhir sekaligus menebas ilmu bagi Abu Dawud sebelum wafat di usia ke-73 tahun pada 16 Syawal 275 H. Beberapa karya Abu Dawud semasa hidup di antaranya Sunan Abu Dawuh, Dalail an-Nubuwwah, al-Marasil, As'ilah Ahmad ibn Hanbal, az-Zuhd, Risalah fi Wasf Kitab as-Sunan, hingga at-Tafarrud fi as-Sunan.

4. Imam At-Tirmidzi

Imam At-Tirmidzi memiliki nama lengkap Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah ibn Musa ibn ad-Dahhak as-Sulami al-Bughi at-Tirmidzi. Imam At-Tirmidzi dilahirkan pada 209 H di Termes, Tajikistan dengan kondisi normal tanpa cacat mata berdasarkan pendapat Umar ibn 'Allak.

Imam At-Tirmidzi meningkatkan pengetahuannya tentang hadis melalui pengembaraan ilmiah ke beberapa wilayah seperti Hijaz, Khurasan, dan Irak. Beberapa guru yang pernah mengajari Imam At-Tirmidzi di antaranya Qutaibah ibn-Sa'id, Ishaq ibn Rahawaih, Abu Mus'ab az-Zuhri, Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Muhammad ibn Amr as-Sawwaq, hingga Ismail ibn Musa al-Fazari.

Imam At-Tirmidzi meninggal dunia di usia 70 tahun pada Senin, 13 Rajab 279 H di Bugh, sebuah desa dekat kota Tirmiz. Karya Imam At-Tirmidzi semasa hidup di antaranya Kitab al-jami' as-Shahih (Sunan at-Tirmidzi), al 'Ilal, asy-Syama'il an-Nabawiyah, az-Zuhd, al-Sma' wa al-Kuna, al-'Ilal al-Kabir, hingga al-Asma' al-Mauqufat.

5. Imam An-Nasa'i

Imam An-Nasa'i merupakan ulama yang lahir pada 215 H/830 M di Nasa, Khurasan. Ulama dengan nama lengkap Ahmad ibn Syu'aib ibn Ali ibn Sinan ibn Bahr ibn Dinar al-Khurasani an-Nasa'i tersebut, sejak kecil telah menghafal Al-Qur'an dan mengkaji ilmu-ilmu keislaman kepada sejumlah guru, salah satunya Qutaibah ibn Sa'id al-Baglani al-Balkhi.

Imam An-Nasa'i memulai rihlah ilmiyyahnya pada usia ke-15 tahun ke Syam, Mesir, Irak, dan Hijaz. Beberapa guru An-Nasa'i seperti Ishaq ibn Rahawaih, Hisyam ibn 'Ammar, Ziyad ibn Yahya al-Hasani, Tamim ibn al-Munasir, Abu Qudamah Ubaidillah ibn Sa'id, dan Yusuf ibn Isa az-Zuhri.

Pada 302 H, Imam An-Nasa'i hijrah ke Damaskus dan menyusun kitab Khasais Ali ibn Abi Thalib. Setahun semenjak kepindahannya tersebut, Imam An-Nasa'i menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin, 13 Safar 303 H/915 M di usia ke-85 tahun.

6. Imam Ibnu Majah

Ibnu Majah sebenarnya bukanlah nama asli dari pengarang Sunan Ibnu Majah. Nama asli pengarang salah satu kitab kutubus sittah tersebut adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Yazid ibn Majah ar-Ruba'i al-Qazwaini. Di sisi lain, Ibnu Majah merupakan gelar sang ayah dari Abu Abdillah Muhammad. Meskipun begitu, beliau tetap menggunakan gelar ayahnya tersebut untuk melabeli karya-karyanya.

Ibnu Majah lahir di Qazwain pada 209 H/824 H. Semejak kecil, Ibnu Majah rajin mempelajari ilmu-ilmu Islam, terlebih hadis. Hingga menginjak usia 15 tahun, kecintaan Ibnu Majah kepada hadis semakin meningkat di bawah bimbingan sang guru, Ali ibn Muhammad at-Tanafasi.

Dalam meningkatkan pengetahuannya tentang hadis, Ibnu Majah mulai usia 21 tahun melakukan rihlah ilmiyyah ke sejumlah daerah seperti Kufah, Madinah, Makkah, Basrah, Mesir, dan Syiria. Dari rihlah itu, Ibnu Majah belajar beberapa guru di antaranya Mu'ab ibn Abdillah az-Zubairi, Muhammad ibn Abdillah ibn Namir, Jubarah ibn al-Muglis, Abu Bakr ibn Abi Syaiban, hingga Hisyam ibn Ammar.

Pada Senin, 21 Ramadan 273 H, Ibnu Majah menghembuskan napas terakhirnya di usia ke-74 tahun. Karya Ibnu Majah semasa hidup di antaranya Tafsir al-Qur'an al-'Azim, Sunan Ibn Majah, dan Tarikh al-Khulafa'.

6 Kutubus Sittah

Sebelumnya telah dibahas mengenai para imam yang telah menyusun kutubus sittah. Berikut ini akan dijelaskan mengenai 6 kutubus sittah mulai nama lengkap hingga jumlah hadis yang termuat di dalamnya:

1. Shahih Bukhari

Al-Jami' al Musnad as-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah Sallallahu 'Alaihi wa Sallam wa Sunanih wa Ayyamih (Shahih Bukhari) merupakan kitab hadis pertama yang disusun hanya dengan mengambil hadis-hadis sahih saja.

Umma Farida dalam Al-Kutub As-Sittah: Karakteristik, Metode dan Sistematika Penulisannya (2011) menjelaskan, penyusunan Shahih Bukhari merupakan implementasi wasiat dari salah satu guru Imam Bukhari, yakni Ishaq ibn Rahawaih. Sang guru berpesan supaya Imam Bukhari menyusun sebuah kitab yang khusus berisi hadis-hadis sahih Nabi Muhammad SAW.

Shahih Bukhari disusun Imam Bukhari dari hasil seleksi 600.00 hadis selama 16 tahun di Masjidil Haram. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan, para ulama setelah mengkaji Sahih Bukhari menyimpulkan, kitab disusun dengan selalu berpegang teguh pada tingkat kesahihan yang paling tinggi. Penyusunan tidak keluar dari tingkat itu, kecuali beberapa hadis yang bukan materi pokok dari sebuah bab.

Selain itu, Ibnu Hajar al-Asqalani juga menyebutkan, jumlah hadis sahih yang memiliki sanad bersambung (mausul) dalam Shahih Bukhari adalah 2602 hadis tanpa pengulangan. Sementara itu, jumlah hadis yang sanadnya tidak mausul sebanyak 159 hadis. Jumlah seluruh hadis dalam ShahihBukhari apabila mengesampingkan pengulangannya adalah 7397 hadis, sudah tidak termasuk hadis mauquf (ucapan atau pernyataan sahabat dan tabi'in).

2. Shahih Muslim

Shahih Muslim merupakan kitab hadis yang disusun Imam Muslim dengan nama lengkap al-Jami' al-Musnad as-Sahih al-Mukhtasar min as-Sunan bi Naql al-'Adl 'an al-'Adl 'an Rasulullah SAW. Penyebab yang melatar belakangi penyusunan Sahih Muslim, salah satunya, berkembangnya pemalsuan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW semasa Khalifah al-Mutawakkil. Oleh sebab itu, Imam Muslim melakukan rihlah ilmiyah guna menyusun ShahihMuslim.

Imam An-Nawawi menjelaskan, Imam Muslim dalam menyeleksi hadis-hadis mengkategorikan dalam tiga macam. Pertama, hadis yang diriwayatkan para periwayat yang adil dan dabit. Kedua, hadis yang diriwayatkan para periwayat tidak diketahui kondisi batinnya dan kekuatan hafalan tidak terlalu kuat.

Ketiga, hadis yang diriwayatkan para periwayat yang lemah hafalannya dan hadisnya ditinggalkan para ulama. Dalam kitab Sahih Muslim, kategori pertama dan kedua saja yang diterima Imam Muslim. Untuk hadis-hadis kategori ketiga, Imam Muslim tidak menggunakannya.

Untuk menghasilkan Sahih Muslim, Imam Muslim menyeleksi sekitar 300.000 hadis yang membutuhkan waktu kira-kira 15 tahun. Ajjaj al-Khatib berpendapat, terdapat 3030 hadis tanpa pengulangan dalam Sahih Muslim. Apabila dihitung dengan mengesampingkan pengulangan, jumlah hadis dalam Sahih Muslim mencapai 10.000 hadis.

3. Sunan Abu Dawud

Abu Dawud menyelesaikan penulisan Sunan Abu Dawud pada 275 H, sebelum hijrah ke Basrah. Kitab hadis tersebut dibuat sebagai referensi bagi dirinya sendiri dalam mengajarkan hadis. Saat menunjukkan Sunan Abu Dawud kepada Ahmad ibn Hanbal, gurunya menilai karya itu begitu baik.

Sunan Abu Dawud disusun berdasarkan abwab fiqhiyyah, karena berfokus pada hadis-hadis yang membahas masalah hukum dan fikih saja. Berbeda dengan Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud tidak hanya mengkhususkan hadis-hadis sahih melainkan juga daif. Melalui kitab al-Khatib, Abu Dawud menjelaskan jumlah hadis yang diseleksinya dalam membuat Sunan Abu Dawud sebagai berikut:

"Aku menulis hadis Nabi Saw. sebanyak 500.000 hadis. Dari jumlah itu aku seleksi menjadi 4800 hadis yang kemudian aku tuliskan dalam kitab Sunan ini. Dalam kitab tersebut aku himpun hadis-hadis sahih, menyerupai sahih, dan mendekati sahih, serta yang tidak disepakati ulama untuk meninggalkannya. Semua hadis yang mengandung kelemahan, maka aku akan menjelaskannya. Sedangkan hadis yang tidak aku jelaskan sedikitpun, maka hadis tersebut adalah salih."

4. Sunan At-Tirmidzi

Al-Jami' al-Mukhtasar min as-Sunan 'an Rasulillah atau Sunan at-Tirmidzi merupakan salah satu karya Imam At-Tirmidzi yang masuk dalam kutubus sittah. Hal yang melatarbelakangi penulisan Sunan At-Tirmidzi adalah untuk menekan pemalsuan terhadap hadis Nabi SAW pada abad ke-3 H.

Sunan At-Tirmidzi tidak hanya menuliskan hadis sahih, namun juga menuliskan hadis daif disertai sebab-sebab yang melemahkannya. Jumlah hadis yang termuat dalam Sunan at-Tirmidzi mencapai 3956 hadis yang terbagi menjadi 5 juz dan 2376 bab.

5. Sunan An-Nasa'i

Penyusunan Sunan an-Nasa'i, as-Sunan as-Sugra, atau al-Mujtaba, tidak lepas dari permintaan Gubernur ar-Ramlah. Imam An-Nasa'i sebelumnya memberikan kitab as-Sunan al-Kubra yang telah dirampungkan kepada sang gubernur.

Akan tetapi, Amir melihat beberapa hadis dalam kitab as-Sunan al-Kubra belum teridentifikasi tingkatannya. Oleh sebab itu, Amir meminta Imam An-Nasai menyeleksi hadis-hadis tersebut serta hanya memasukan yang sahih. Menanggapi itu, Imam An-Nasa'i membukukan hadis-hadis sahih dari kitab as-Sunan al-Kubra menjadi kitab as-Sunan as-Sugra, al-Mujtaba min as-Sunan, atau Sunan an-Nasa'i.

Terdapat sekitar 5761 hadis Nabi SAW dalam Sunan an-Nasa'i. Hadis-hadis yang dimasukkan Imam An-Nasa'i dalam kitab tersebut hanya yang diperoleh dari orang-orang yang terpercaya. Oleh sebab itu, kualitas hadis-hadis dalam Sunan an-Nasa'i berkualitas sahih dan minim hadis daif.

6. Sunan Ibnu Majah

Ibnu Majah menyusun Sunan Ibnu Majah guna melawan pemalsuan hadis yang dipelopori kaum zindiq semasa kepemimpinan Khalifah al-Ma'mun hingga Khalifah al-Muqtadir. Meskipun demikian, kualitas hadis dalam Sunan Ibnu Majah ada yang sahih, hasan, dan daif.

Salah satu alasan yang mendukung Sunan Ibnu Majah dimasukkan dalam kutubus sittah ialah karena Ibnu Majah menuliskan hadis-hadis yang tidak dijumpai di Shahih Bukhari Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, dan Sunan an-Nasa'i.

Muhammad Fuad Abd al-Baqi dalam penelitiannya terkait Sunan Ibnu Majah menemukan, terdapat 4341 hadis dalam kutubus sittah tersebut. 3002 hadis sama dengan yang ditakhrij Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i. Sementara itu, 1339 hadis sisanya merupakan tambahan dari Ibnu Majah.