News - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan meski rupiah mengalami pelemahan, fundamental perekonomian Indonesia masih cukup baik.

Menurutnya, ini terlihat dari imbal hasil obligasi Indonesia yang sebesar 3,7 persen masih lebih menarik dibanding negara-negara lain seperti Brazil (2,6 persen), Filipina (2,5 persen), atau Malaysia (2,1 persen).

“Penguatan dolar terhadap mata uang dunia, termasuk rupiah. Ini seiring dengan keluarnya arus modal asing. Namun BI (Bank Indonesia) telah mengintervensi dan dibandingkan real yield negara lain, yield kita masih lebih menarik,” ujarnya, di Jakarta, Senin (24/6/2024).

Pada saat yang sama, tambahnya, kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang masih tetap bertahan pada level 6,25 persen membuat ekonomi Indonesia berada pada zona hijau alias aman, meski memiliki peringkat utang dari S&P BBB.

Ketua Umum Partai Golkar itu menilai, posisi Indonesia masih jauh lebih menarik ketimbang Thailand yang memiliki rating utang BBB+ dengan tingkat suku bungan acuan Bank of Thailand sebesar 2,50 persen.

“Kita relatif dari seluruh indikator, berada pada green, daerah yang aman. Daerah seperti Indonesia itu lebih baik dari Thailand, dengan rating yang lebih baik, kita punya inflation juga lebih menarik,” imbuhnya.

Meski mengalami defisit di level -0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), imbuhnya, keseimbangan fiskal Indonesia masih relatif lebih terjaga.

Airlangga mencontohkan, dengan surplus transaksi neraca berjalan sebesar 2,46 persen, memiliki keseimbangan fiskal -3,32 persen terhadap PDB.

Fiscal debt juga kita relatif baik, negara-negara lain juga lebih tinggi dari kita,” lanjut Airlangga.

Per Mei 2024, utang dalam negeri Indonesia mencapai 39,14 persen dari total PDB. Sedangkan utang luar negeri pada periode yang sama mencapai 29,69 persen dari total PDB.