News - Kekalahan pasukan Quraisy di Sumur Badar pada Ramadan tahun 624 Masehi sangat memukul mentalitas pemimpinnya, Abu Sufyan. Dalam versi penduduk Makkah yang tidak mengakui kenabian Muhammad, kekalahan yang mereka terima adalah sebuah penyergapan yang memukul aktivitas utama kehidupan kota metropolis-perdagangan mereka.

Dengan jumlah pasukan kurang dari sepertiga dari orang-orang Quraisy, Philip K. Hitti dalam History of The Arabs (2005: 146) menerangkan, peristiwa itu punya posisi penting dalam sudut pandang militer, terutama dari aspek psikologis. Perang Badar menjadi tonggak munculnya reputasi Nabi Muhammad yang tidak hanya andal sebagai seorang pemimpin agama, melainkan juga pemimpin militer yang tangguh meski tanpa pengalaman memimpin perang sebelumnya.

Segera, setelah kekalahan tersebut, Abu Sufyan mendesak para penduduk Makkah untuk melancarkan serangan balasan. Dalam tempo yang relatif singkat, Shafiyyu al-Rahman al-Mubarakfuri menyebut dalam Sirah Nabawiyah (1997: 279) bahwa Abu Sufyan berhasil mengumpulkan sekitar seribu unta dan seribu lima ratus dinar. Selain soal balas dendam, serangan ini juga berfungsi untuk mengamankan rute perdagangan ke Negeri Syam bagi pedagang-pedagang Makkah.

Abu Sufyan memimpin sendiri pasukan Quraisy berjumlah 3.000 orang terlatih, termasuk di dalamnya pasukan berbaju zirah. Tak hanya itu, mereka juga diperkuat 200 orang pasukan kavaleri. Keberangkatan itu terjadi setahun setelah perang di Badar (625 Masehi) pada bulan Syawal tahun ketiga Hijriah.