News - Rambutnya berantakan, celana jeans-nya sobek di bagian lutut, kausnya belel, dan hampir selalu ada rokok putih terapit di jemarinya. Sepintas, dia sama sekali tak terlihat seperti seorang yang termasyhur. Namun, di balik penampilan serba seadanya itu, tersimpan sosok genius yang nyaris tiada dua.

Dia adalah Akira Nakai, modifikator legendaris asal Jepang.

Bagi Nakai, hidup adalah evolusi yang konstan. Itulah mengapa tidak ada satu pun karya modifikasi Nakai yang sama. Semua berbeda karena Nakai di satu detik tidaklah sama dengan Nakai di detik berikutnya.

Tak jarang, dia tiba-tiba berhenti mengerjakan sebuah mobil untuk berpindah ke mobil lainnya karena mendapat inspirasi secara mendadak. Sebelum inspirasi itu lenyap, dia buru-buru mengaplikasikannya pada "kanvas" yang lain.

Kini, sosok Nakai sudah dianggap sebagai legenda. Namun, predikat legenda itu didapatkan pria 53 tahun itu secara tak sengaja. Saat bekerja di sebuah bengkel modifikasi pada pertengahan 1990-an, dia ditugasi menggarap sebuah Porsche. Nakai seketika jatuh cinta pada mobil bikinan Jerman tersebut dan tak pernah lagi memalingkan pandangan. Padahal, Porsche sendiri bukanlah cinta pertama Nakai.

Sebagai pria Jepang yang tumbuh pada dekade 1980-an, Nakai menghabiskan masa mudanya dengan mengulik Toyota AE86 Sprinter Trueno yang dikenal luas sebagai mobil drift. Dia tergabung dalam geng balap bernama Rough World. Geng ini biasa menghabiskan waktu dengan menyayat jalanana di Gunung Tsukuba atau memacu AE86 mereka di sirkuit setempat.

Gaya modifikasi Nakai sangat dipengaruhi oleh gaya mobil-mobil yang digunakan oleh para anggota Rough World. Mobil-mobil itu dibuat ceper dengan sudut camber negatif dan dilengkapi sayap besar serta spakbor lebar. Tak lupa, stiker besar bertuliskan "Rough World" ditempel di bagian atas kaca depan mobil.

Gaya khas itu membuat Nakai dan Rough World meraih ketenaran di dunia otomotif Jepang. Majalah-majalah berlomba meliput mereka. Sesekali, mereka pun tampil dalam film dokumenter.