News - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan tengah mempelajari penyebab kebangkrutan industri tekstil terbesar se-Asia Tenggara, PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Ia mengaku, pemerintah perlu menganalisis mengapa perusahaan yang dikenal produsen seragam militer itu bisa bangkrut.

"Itu harus kita pelajari, mengapa bangkrut," kata Agus Gumiwang di Istana Merdeka Jakarta, Senin (24/6/2024).

Agus mengatakan, pemerintah harus melihat model bisnis yang dilakukan Sritex. Apakah kebangkrutan terjadi murni akibat kesalahan kebijakan perusahaan atau masalah yang dialami pemerintah pusat.

Sebagai catatan, laporan keuangan perusahan Sritex mencatat kewajiban perusahaan mencapai 1,6 miliar USD atau Rp26,24 triliun (kurs Rp16.400). Angka ini naik dibanding tahun 2022 yang mencapai 1,54 miliar dolar AS dengan rincian liabilitas jangka pendek sebesar 113,01 juta dolar AS, sementara liabilitas jangka panjang sebesar 1,49 miliar dolar AS.

Selain itu, ramai kabar bahwa industri tekstil mengalami PHK besar-besaran. Berdasarkan informasi yang diperoleh, sekitar 13.800 karwayan menjadi korban PHK perusahaan industri tekstil.

Akan tetapi, Agus memastikan industri Indonesia masih tahan meski terjadi pelemahan rupiah yang saat ini mencapai Rp16.380.

"Terkait dengan pelemahan rupiah, industri atau manufacture resilience pada dasarnya seperti itu. Memang ada tantangan, tapi saya yakin ketahanan kita tetap tinggi," kata Agus.