News - Parlindoengan Loebis, dokter dan ketua Perhimpoenan Indonesia (PI) Belanda periode 1936-1940, barangkali satu-satunya aktivis Indonesia yang merasai kebrutalan fasisme Nazi secara langsung. Selama empat tahun, ia disekap di kamp Schoorl dan Amersfoort di Belanda, serta Buchenwald dan Sachsenhausen di Jerman. Parlindoengan selamat dan menuliskan pengalaman dalam autobiografi berjudul Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi (2006).

Namun, buku itu tak melulu bercerita tentang kehidupan Parlindoengan di Eropa. Ada pula, misalnya, catatan ringkas tentang kawan Parlindoengan semasa ia belajar di Geneeskundige Hogeschool, Batavia: “Di asrama aku sekamar dengan Abdulrahman Saleh,” tulis Parlindoengan.Dia mendapat julukan 'Karbol' karena kebiasaannya mengepel kamar tidur setiap pagi.”

Pada masa itu, agaknya Parlindoengan dan kawan-kawannya yang lain tak pernah menyangka bahwa “Karbol”, nama julukan yang mengundang tawa itu, kelak akan jadi sebutan yang afektif sekaligus terhormat buat para taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) di Yogyakarta.

Menurut Chappy Hakim dalam Awas Ketabrak Pesawat Terbang! (2009), sekali waktu Saleh Basarah mengunjungi Akademi Angkatan Udara Amerika Serikat di Colorado Springs. Di sana, ia menemukan bahwa para taruna disebut Dollies, merujuk kepada James “Jimmy” Doolittle, pilot tempur legendaris Amerika Serikat pada Perang Dunia II.

Di Indonesia, ada seorang penerbang yang dikagumi Saleh Basarah: Komandan Pangkalan Udara Madiun (1946) sekaligus pendiri Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang. Ialah Abdulrahman Saleh alias Karbol.

Saleh kemudian mengusulkan agar para taruna AAU dipanggil Karbol. Usul itu kemudian disetujui dan diresmikan dengan Surat Keputusan Komandan Akademi Angkatan Udara nomor 145/KPTS/AAU/1965, 3 Agustus 1965.